aku sudah lelah menampakkan diri sok tegar di luar sana
membayangkan bahwa tidak pernah hilang keberadaanmu
seperti itu kira-kira
aku lelah membohongi diriku sendiri.
aku sudah lelah menampakkan diri tersenyum di luar sana
membayangkan bahwa tidak pernah ada kata selamat tinggal di antara kita
seperti itu kira-kira
aku lelah menyakiti hatiku sendiri.
terlalu pelik untuk mendengarkan ucapan orang saat ini, tentang kamu dan tepian yang akan kudaki kemudian. mereka berkata "akan baik-baik saja tanpa dia".
hingga 5 tahun belakangan, ya benar, memang baik-baik saja.
namun akan jauh lebih istimewa bila dengan dia.
kukira sudah saatnya manusia untuk tidak berpura tegar
untuk tidak menahan tangisnya saat kehilangan
untuk tidak menepi pada diri sendiri.
hingga suatu saat mendapati segalanya hanyalah ilusi.
Tampilkan postingan dengan label BLOG GALAU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BLOG GALAU. Tampilkan semua postingan
Jumat, 03 Januari 2014
Selasa, 12 Februari 2013
Bisa aku meminjam namamu lagi?
Masih berdiam di tepian malam yang kelam, dan terus-terus mengambang karena sebuah penyesalan. Tentang sekuat apa aku berjuang mempertahankan, tentang setegas apa janji diiyakan, namun berakhir tetap tumbang. Tetap menyengsarakan. Cinta yang kelam.
Tiada tempat seromantis kursi yang berhadapan, bukan? Lalu teh hangat yang sedikit melegakan rasa, atau terkadang kopi pekat yang membumbui kerinduan tentang cinta. Kita, pernah berdua, lalu saling meminjam nama untuk sasaran pelempar sepi, tentang kamu, yang selalu hadir dalam malamku sendiri. tanpa kuminta, tanpa harus kujatuhkan harga.
Lalu kemudian masih ada namamu di secarik kertas kecil yang kutulis. Kali ini tak kugambar nyata, aku hanya mampu memujamu sendirian, seiring rasa yang mungkin telah kau pudarkan demikian. Aku menyanjungnya, hingga aku bosan menceritakannya. Bosan untuk merindu, bosan untuk merasakan rindu karenamu.
Perlahan cerita memudar, tak ada jiwamu dalam goresan pena hari-hariku. Namun masih ada rasa, yang kutulis hambar, tanpa penyedap cerita yang lain. Pintu itu, pintu masa lalu. Sebegitu berharganya namamu di sini, dalam kotak produktivitasku. Kamu, dan ceritamu. Bagian terpenting dari cerita hidupku. Bisa aku meminjam namamu lagi?
Sabtu, 09 Februari 2013
lelaki tua di persimpangan langkah kecil
rebah tubuhku di kasur yang sudah 4 tahun menjadi tumpuan malamku, masih selalu dengan sisa tangis yang membalut sepanjang waktu rindu, yang kebanyakan kuhabiskan sesaat ini, menjelang subuh yang menjadi partikel pembangun segalanya.
hingga setapak berhari-hari aku melangkah sendiri dan masih merapuh tanpa tau apa yang ku cari. berjalan hanya untuk keharusan berjalan. menatap hari hanya untuk mensyukuri nikmat Tuhan, namun apalagi? tiada yang lain kukira. hampa, sepi, gulita. selarik lagu disturbia masih menggema di sekat telinga kali ini. memboyak ragaku untuk berjalan keluar. keluar kamar. keluar menatap rindu yang lebih menyejukkan.
lalu kucoba pasang langkah kecil, menapaki jalan yang sempat terukir dalam hari. yang dulu berdua, bersamanya. tentang kebahagiaan yang tak berujung, tentang kasih yang kukira tak akan pernah mendung. lalu kulihat kedalam kembali, masih tentang apa yang kucari. apa yang kucari dari sebuah penantian ini.
hingga langkah kecil mengantarku pada sebuah titik. tentang sudut yang menemukanku pada lelaki tua yang masih terawat. kali ini bukan ayahku, dia jauh lebih tua, dan lebih ganas kukira. ayahku tak sejahat itu. kutatap rautnya, sedikit menggelikan. bagiku dia hanya seorang yang tak tentu arah kali ini, menunggu subuh di bangunan kecil yang kusebut poskamling. kemudian aku mendatanginya, menanyakan apa yang dilakukannya. dan dia hanya tersenyum kecil untuk menjawab ,"bukankah kita memang seharusnya bersiap sejak dinginnya pagi baru kita meminta untuk didatangkan pekerjaan?". aku terdiam, seperti tak ada bumbu senyuman di rautku saat itu. kembali berjalan, mencoba menulis, dan memikirkan secuil kata yang bisa jadi penuh hujan makna.
dan hingga memori membangkitkan pikiranku, berkata tentang hal itu, yang memang seharusnya kita bersiap lebih awal, dan mengerti siapa kita, baru kita boleh meminta untuk dipilih oleh cinta. yak! itu bagiku saat ini. lalu, lelaki tua itu? aku? dan dia? dia yang kuanggap tak berarti apa-apa? ternyata? menyadarkanku yang selama ini masih berjalan seadanya? mengikuti apa yang orang mau? begitu? sehina itu ternyata. masih tentang cinta.
lalu? lelaki tua itu? siapa?
Minggu, 03 Februari 2013
terendap rindu jogja
baru tadi dini hari kutinggalkan, jogja masih saja bergelanyut dalam ingatan. lagi apa, kamu sekarang? pundak yang kupinjam selama perjalanan. dan telinga yang selalu terpasang mesti tak ada salam perpisahan. sekali lagi, memang jogja menawarkan cerita cinta, bagaimanapun bentuknya.
lantas berdetik waktu masih berlalu dengan lantangnya, dan masih ada aku yang seolah dihantui pertanyaan lain seisi berpijakku di jogja, "apa yang kau dapatkan selain cinta?" sembari menulis prolog, aku kebingungan, apa yang bisa kubumbukan selain perihal cinta. rindu kataku? lalu otakku berbelok berpikir lagi, bukakah rindu masih setipe dengan cinta? lalu apalagi? gembira? gembira sesaat dan seketika dunia berhenti tak mendengarku ketika jogja kulihat sudah berada di belakang bus yang kutumpangi? aku tak sebegitu kuat menahan egoku sendiri, jogjakarta.
beberapa bagian dalam hati berkata, jangan kau rindukan jogja. dia kunci terbesar kau terdiam dalam dunia mimpi. kau tidak akan menghadapi realita. namun sisi lain berkata, ya beginilah realita. jogja yang tak bisa kulepaskan begitu saja, jogja yang selalu memelukku perlahan. memelukku karena ada kamu, dan dia yang kucurhatkan kepadamu. ajaib, jogja selalu begitu. hingga rasa timbul keduanya, namun takdir tak berdiri tegap untuk menyelimutinya. binasa, kemudian hanya akan ada cerita, dan rasa rindu yang menahun menghantu, di bayang-bayang melayang sanubari tempatku berlabuh.
sekedar kerdil cerita yang kita simpan, tentang yang kubagikan kepadamu, dan kamu kepadaku. tentang masa lalu menginjak jogjakarta, tentang rindu menahun atas cinta beda agama, begitupula kamu, diammu dalam nuansa jogjakarta, yang menghentikan waktu, dan menawarkan pundakmu kembali untukku. indah, teramat indah. namun tak seindah apapun jika hanya tetap menjadi kenangan yang tersimpan sendiri. seperti bualan di dini hari, hanya aku yang tertawa, tak ada pendengar lainnya. jogjakarta, selalu perihal cinta. cinta yang tak berencana, atas rindu yang terendap dalam lara.
masih kamu. dan masih aku yang terluka
Buat kamu yang masih kuperdebatkan tentang masa lalu. Aku menagih mimpi dan jaminan atas kesendirianku saat ini. Kamu pernah menawarkannya. Iya, kamu pernah. Dan aku juga pernah mengiyakannya.
Buat kamu yang masih berdiri kokoh tanpa kehadiranku. Layaknya seperti kata yang pernah kupegang kala itu, aku merindukanmu. Merindukanmu walau aku masih dalam posisi jatuh tersungkur di tepian kenangan. Hari yang kubumbui sendiri.
Kamu bukan candu, bukan hantu. Tapi kamu sempat jadi sebuah mimpi. Mimpi yang teramat istimewa. Mimpi yang teramat mempesona. Lalu segalanya hancur saat kamu memberitahu siapa aku sebelumnya. Tentang diriku yang sepenuhnya tak bisa kulihat sendiri. Tentang diriku yang separuhnya sudah kamu kuasai. Lalu aku apadaya menangis. Terlalu bengis untuk berkata cinta lagi.
Buat kamu yang sudah terlalu bising ditelingaku karena mamaku selalu menanyakannya, yang sempat kutulis mesra bersama jutaan baris-larik puisi. Namamu beradu dalam majas. Masih seperti dulu. Seperti tulisan semu tentang hati merindu yang kukirim kepadamu. Namun kali ini sedikit berbeda, entah mengapa aku harus menyimpannya sendiri. Dan luka. Itu luka.
Rabu, 30 Januari 2013
Buat kamu yang kutemui di 22 januari.
halo, bos. lama ya kita nggak ketemu. aku hitung-hitung udah 3 tahunan lho. mungkin cuman aku aja yang ngitung, lha kamu, mau ada aku, mau enggak, kayaknya kehidupanmu masih asyik-asyik aja tuh :)
udah lupa mungkin ya kamu rasanya ngesms pakek nada bergelanyut manja gitu? tanya aku pulang jam berapa, tanya lagi apa, atau bahkan pamitan mau ke bali. sampe-sampe aku inget, kita sempat on phone pas aku pelajaran sejarah, dengan kondisi baterai hp yang sekarat, dan saat itu kupikir kekuatan cinta yang menguatkan pembicaraan kita, haha. lucu ya? iya lucu. tapi jangan bilang anak-anakmu nanti lho :)
aku coba mikir sampe sekarang, kenapa harus kita ketemu, dan kenapa harus aku ngrasa kita jodoh pas itu. naif sih, tapi itulah hidup. kamu yang mengajarkannya, kamu bilang coklat itu kalem tapi jantan. sementara aku bilang merah itu berani. kita berwarna, kata kamu, gak perlu ada ulangtahun-ulangtahunan kalo tiap hari kita udah bisa bahagia bersama. alay ya? tapi aku seneng pas itu. senengnya berlebihan :)
udah berapa orang yang kamu ceritain kalo aku ga bisa hidup tanpa mami? udah berapa orang yang kamu bilang kalo aku anak mami? kayaknya temen-temenku yang tau begitu cuman 1 sumbernya, dari kamu. dasar alien!
masih inget gimana aku tertegun dan bener-bener nyimpen rindu pas kita ketemu kapan hari itu? mulut kecil cuma bilang, gimana kabarmu dan kabar mami? mami. iya, kamu deket banget sama mami.
aku masih inget, gimana kondisi tubuhmu pas itu. wangimu, masih tetep. tetep kayak dulu, dan tetep kayak kaos itu, kaos biru, kaos kenangan. mungkin kalo sekarang aku mau cerita sama dunia, ga bakal ada yang ngerti indahnya, ga nutut. karena kamu emang udah terlampau indah saat itu.
hingga akhirnya setelah kamu berlalu dan aku tetap memendam rindu, Tuhan mempertemukan kita lagi. kali ini caranya beda, kita dipertemukan di sebuah jalan yang sama, namun arahnya berbeda. mungkin itu yang terjadi sama kita, kita berada di lintasan yang sama, tapi kamu lebih memilih untuk melanjutkan hidupmu yang kau kira lebih baik tanpa aku, sementara aku, masih buta arah. buta arah karena kebanyakan kau tuntun.
aku seneng saat itu. tepat 22 januari. kita berpapasan, tertegun, dan saling membuang muka. tampaknya, saat itu aku hanya diperkenankan untuk cukup tau keadaanmu, dan kupikir kamu masih baik-baik saja, tetap pribadi sempurna yang kukenal sebelumnya. "tambah nyempluk", itu yang kubilang ke mami. haha, lucu ya. mami masih nanyain kamu, banget. banget :)
aku ngga bakal nulis surat kecil untuk Tuhan kok tenang aja. tapi yang jelas aku terima aja kalo ternyata Tuhan masih ngasih koridor yang diturunkannya buat kita bertemu, sebagai apapun, kondisi bagaimanapun. setidaknya, untuk melihatmu dari dekat lalu mendoakanmu dan melempar rindu dari kejauhan.
Cappucino yang kuminum tak pernah sehambar ini
pagi yang sepi. semestinya tetap indah. lalu bertahan aku atas sebuah keputusan tentang kita. kita yang tak lagi bersama. bukan begitu, dari awal memang kita tak bersama. kau bersama pacarmu, dan aku pendampingnya. namun kali ini aku sudah cukup bosan membicarakan itu. kau dan pacarmu. lebih baik kubicarakan tentang kita yang memang sudah pasti tidak akan bersama lagi.
aku bangun dari tempat yang sempat kita mainkan, ya mimpi. kita pernah berayun di sana. merajut asa yang ternyata lenyap seketika saat dunia tak lagi mengijinkan keberadaan kita untuk tertawa bersama. tentang kopi yang sempat menghangatkan, seduhan teh melati di rintiknya hujan, hingga cappucino yang selalu kau pesan di keheningan malam kita. hingga mendarat pada sebuah pelukan mesra. lalu kali ini kuseduh cappucino sendiri. tanpa kamu tempat ceritaku, tanpa kamu yang ada untuk menyandarkan bebanku.
hingga terbitnya matahari dari timur, cappucino yang kuminum tak seperti biasanya. kali ini mungkin seduhannya biasa, kurang hangat menurutku. dan hingga kuingat memori tenggelam di dalamnya, tentang kamu, tentang rasa, tentang cinta, hingga aku tau, tanpamu, karenamu, cappucino yang kuminum tak pernah sehambar ini.
Minggu, 20 Januari 2013
kicauan untukmu
buat kamu yang mungkin nggak tau sekarang aku lagi ngapain, pengen apa, dan kelaparan ngidam apa... ah yang jelas, kamu begitu asik dengan duniamu, dengan pacarmu, dan aku tak begitu asik dengan itu semua. mungkin hanya satu salam yang kubentuk unyu, kulempar dari sini, dari ruang tamu saat aku mengetik tulisan ini.
seperti semua berjalan pada umumnya, seperti semua berjalan dengan semestinya sebuah perjalanan. perkenalan, kehampaan, dan mayoritas rasa. kali ini, rasa kagum yang menyelimuti. ternyata benar kata orang, semakin gampang kita mencintai, maka kita akan semakin rapuh. kadang teruji, siapa yang cinta, siapa yang terdepak. dan dalam kisah ini, aku.
siapa boleh menduga tentang kita. uops, salah, lebih tepatnya tentang aku yang berharap jauh lebih dari ini, dan kamu yang berperan diam saja. heran ya aku, kenapa aku jadi pihak yang menye-menye. maaf, kali ini sepertinya tubuh sedang ngga sinkron sama hati. kayak aku. beneran. serius. sok-sok an ngambek, tapi nggak bisa. dan pilunya sama juga kayak aku yang udah pasang emot sedih, tapu gak ditanyain sedih kenapa. hancur lho. luka lho.
teruntuk kamu yang lagi ditemenin pacarmu bbman. bingung lho aku sekarang, seperti lalai tapi ngga pada tempatnya, semacam gusar tapi ngga semestinya.
dan lagi-lagi apa iya aku harus tersungkur jatuh di cinta sendiri atas pacar orang? teruntuk kamu yang mungkin lagi saling melepas rindu, aku paham tugasmu untukku, dan pacarmu untukmu. jadi, kadang cinta memang memilih untuk diam saja.
Sabtu, 19 Januari 2013
salah.
aku terlanjur menghirup rindu yang seharusnya bukan milikku
banyak hal yang perlahan membuatku sepi di sini. dia, kamu, dan kalian. kalian yang terbentuk dari dia dan kamu lebih tepatnya. dan aku masih menonton. tidak berhenti menonton, di hatiku seperti masih menuai doa. doanya tulus, tapi jahat. iya, biar kalian selesai. dan aku bisa menari girang dari sana.
Kamis, 17 Januari 2013
abu-abu di sekitar hijau muda
mungkin ini ya yang kalian maksud? bayangkan aja dua manusia yang bergabung jadi 1 ikatan dan di sekelilingnya terdapat zona abu-abu. seperti gambar itu? dan gimana kalo zona abu-abu itu aku? istilahnya, ketika kamu memilih buat keluar dari keindahan hijau muda, entah karena apa, aku siap menerima, bahkan memberikan yang lebih dengan tambalan apapun.
Rabu, 16 Januari 2013

| masih belum tau atau masih berpura-pura nggak tau? masih nggak mau bilang atau bahkan masih mencoba buat melupakan? kamu nggak sekuat aku ternyata. aku aja bisa jadi pemain cadangan di antara kalian. tapi kamu? nga a a gitu aja udah nyerah! kadang aku mikir, sebegitu hinanya aku hidup dalam cemoohan orang, terima, tapi ga sepenuhnya terima. cuman bilang "ya yo ya yo" tapi itu karena kamu juga, karena kebertahananku sih lebih tepatnya. kadang aku mikir juga sih tapi, kenapa kamu baik mampus. ngasih harapan cuma-cuma di beberapa saat dan letupannya kerasa banget. kepo, stalking, dan semacamnya, kamu bener-bener bisa ngundang aku buat ngelakuin hal-hal itu, padahal aku sadar, aku siapa. kayaknya mau bilang aku maksa, ya emang. enggak, ya emang. ah udahlah, kita sama-sama pemain kok. bedanya, kalian pemain inti, dan aku masih diam, melihat, memperhatikan, menambahkan apa yang kurang dari kalian, soalnya aku pemain cadangan. pemain yang siap dipanggil sewaktu-waktu... karena kamu. |
Senin, 14 Januari 2013
"kamu" "kamuflase"
ada hujan yang memagari sepanjang rumahku, dan ada pacarmu yang masih jadi pertimbangan kenapa aku masih disini. ya, as your mega best friend. kata bekennya sih, friendzone. ngga masalah, aku cuman butuh beberapa candaan aja biar bisa ketawa.
malam ini masih hening, iyalah, soalnya aku sendirian. kamu? lagi sama pacarmu ya? ngapain? dimana? kok.... bla bla bla bla... oke deh, akhirnya cuman bisa masuk draft aja sih, bukan ga berani ngirim. cuman ngga enak aja. seenggaknya, sadar diri itu perlu kan? aku juga cukup tau diri tentang hati. ngggggggg. oke kali ini aku cuman bisa ngomong posisiku........................ aku komplementer hati
aku nyesel juga sih, kenapa harus pacar orang. kenapa harus aku yang maksa gitu deh ya, dan kenapa harus kamu datang dengan keadaan yang kayak gini, dan...................... mencengangkan. : lagi penting-pentingnya, ternyata aku kalah jadwal. berujung : yaudah
beberapa hari akhirnya aku mikir juga. kamu itu udah cukup punya hati. ngasih kebebasan sejauh mana aku bebas bertindak. kamu baik, baik banget, cuman akunya aja yang ndableg. dan aku sebenernya perlu ngasih tau kenapa aku bisa kayak gini. nga a a a a a
// awkey. at least, sebagai komplementer hati yang baik, kadang aku juga butuh komplementer yang lainnya. intinya, kadang tulisanku bukan tentang kamu, tapi nyrempet kamu. kamu yang kuharapkan lebih dari kamu, paham? terlalu banyak "kamu"? iyasih. kamu juga gitu kok. masih bingung? oke kita sama-sama nggak punya hati //
kasarnya begini aja sih ya, kamu sekarang ada di samping dia, yang notabene lebih terikat dengan yang namanya pacaran dan semua orang tau itu, bahkan mungkin dunia kegelapan juga paham, sementara aku? aku bisa apa. dan seolah di sini kamu yang nggak punya hati. seolah lho ya, cuman seolah. dan aku? tanpa disadari aku lebih nggak punya hati lagi. kenapa begitu? oke. aku udah bikin bingung banyak orang. dengan terlalu banyaknya "kamu", dan bisa dibilang aku jadi komplementer akut diantara "mereka" nggak punya hati? oke aku lebih baik diam. dan aku percaya sama kamu. iya, kali ini kamu, beneran kamu.... kamu!
Minggu, 13 Januari 2013
Lalu inilah hujan
masih sedetik kira aku memikirkanmu, tentang yang disampingku beberapa hari lalu. itu kamu? mirip hujan, yang kuharap tak kunjung terang.
aku jahat mungkin. menjadikan alasan hujan untuk memintamu berteduh. apa? iya. karena hanya itu alasanku untuk menghubungimu. walau aku tau, dia mungkin jauh memintamu lebih dulu. selamat. mungkin kamu tersenyum karena melihatku yang merasa bodoh karena itu.
lalu aku melihat ke dalam. ya, lagi-lagi aku tersenyum. aku tersenyum atas kebodohanku sendiri. seolah aku memanipulasi waktu, sepertinya pacarmu lagi kubuang ke kutub utara dan kubiarkan dia bercanda dengan pinguin yang tak seindah kamu. lucu. iya kamu tau. tapi kamu diam. diam karena keadaan.
lagi-lagi aku melihatmu lebih dalam. aku tak putus asa rupanya. melihat teduhmu seteduh hujan, yang menghancurkan segenap logikaku, menyamarkan suara di sekitarku, dan hanya ada satu jerit yang terdengar disini. itu hati. jerit hati!
seperti mimpi yang sempat tercipta karenamu, lalu aku merombaknya sendiri. eh, iya. aku seperti air yang tertahan saat ini. rasaku semakin keras, namun terbendung atas keadaan, hingga berbelok tak berarah, bertumpah ruah, namun masih kamu objeknya.
lalu hujan perlahan berhenti, ah aku sebal. membuatmu kembali tersenyum dan memang itu tugasmu dari dulu. tersenyum untuk menertawakanku. kutahan? aku bisa apa. lebih baik aku diam, memandangmu dari jauh, dan jari-jariku seperti terlepas. meminta untuk mengikutimu ke seberang sana.
aku butuh waktu untuk berkuasa. dalam bahasa yang seharusnya kita mendengarkannya bersama. eh, lagi-lagi salah. kita sudah mendengarkannya bersama. bahasa rindu, bahasa senyuman, dan bahasa cinta. tapi... kurang dalam. nyaman.. tapi.. bukan milik "kita"
oh iya, apakabar pacarmu yang tai kuungsikan ke kutub utara? aku berharap dia kedinginan dan mati saja. harapanku aja sih, tapi ya mana mungkin aku mengatakannya kepadamu. aku tak setega itu, sekaligus aku cukup sadar diri. kemudian bibirku mulai membuka pertanyaan, "gimana pacarmu? lagi dimana sekarang?". aw shit! pilu lho :)) pilu. tapi itulah penghargaan. aku menghargai kamu dan kehidupanmu, di saat kamu menghargai bahasa rindu yang seharusnya tak mengandung makna sendu.
kutahan, hingga hari ini semua baik-baik saja. kutahan, hingga hari ini aku masih berpijak dari sudut aku melihatmu. hingga kemudian waktu seolah berputar. iya, hujan. hari ini nggak hujan. nggak mereplikakan untaian cita yang tak biasa. melihatmu di ujung pelupuk mata, lagi, semakin buram, tentang kamu, yak! ada kamu, dan ada hujan. kali ini hujan turun dari sudut aku melihatmu di hati ini, lalu terhubung ke dua mata yang kau tatap penuh arti di hari lalu. kamu mirip, mirip hujan :)
Alasan untuk berhenti mencintai?
tak ada sangka, atas dasar pertemuan, seseorang bisa terluka. bisa lebih berat, terluka sendiri.
seperti mengenal, namun hanya searah. mencoba mengenali hati sendiri, sejauh mana simfoni terlihat abadi. tentang hati yang diperkirakan mati, tentang rasa yang lama sirna. luka
ada alasan untuk bertanya, kenapa ini seolah datang? seolah? iya seolah. hanya bertahan di anganku sendiri. kamu? seperti biasa. tidak mengenali, hanya bertugas datang, dan membuatku tertawa.
kamu masih paket lengkap. lengkap, membuatku semakin suka, namun tetap dalam objek derita. kamu itu lengkap. seperti teh hangat yang sempat memberikan nuansa berbeda antara kita. lengkap
sebegitu berfikirnya aku? mengapa harus bertahan hanya dalam berfikir sendiri? lalu? enak ya jadi kamu. datang bukan membawa pilihan, tapi malah membeberkan keputusan. suka atau tidak, semua dari relungku. hebat kamu.
sekali lagi harus kubilang kamu hebat. aku tau resikonya dan aku menerima, aku paham perasaanku, dia, dan kamu yang seolah-olah masih diam, meski kamu tau tentang segalanya. iya, kamu memilih untuk diam. dan itu pilihanmu. sementara aku? diam bukanlah pilihan, tapi ketetapan. sama seperti keputusan yang telah kau beberkan kepadaku sebelumnya.
keputusan ini mendinginkan logikaku. lalu membawaku mengikuti alur yang kau tentukan sebelumnya. ya, lagi-lagi aku. aku yang berkewajiban mengetahui kedalamanmu, dan kamu yang hanya bertugas membuatku tertawa. tertawa yang kau jaga, beda dengan yang lainnya.
.
berhenti mencintai? oh tidak :) kamu datang di saat yang tepat. aku hanya butuh tertawa. dan itu olehmu. selebihnya? ah aku tidak memikirkannya. tak kujamin yang lebih dari ini akan menjadi yang terindah.
kupikir, untuk apa harus berhenti? bukankah segalanya masih indah jika kita menikmati? ah sudahlah, beberapa hari yang tersisa tentang kita, semoga masih ada cerita bersambung yang mampu ditentukan bersama. seperti ini. seperti kamu. dan pikiranku sendiri
Senin, 07 Januari 2013
Hanya....
tersisa sedikit rasa untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, yang seharusnya terucap sejak dulu, sejak alasan itu beradu di titik dua hati bertemu, yang semakin menjauh karena waktu. rasanya hambar, perlahan seperti tiada yang ditunggu di bangku coklat depan rumahku, tentang lewatmu, harapan, dan gitar tua yang sempat ada di antara kita. rasanya, puisipun tak mempu menggambarkan kehampaannya.
lalu seolah pergi, tepat seperti saat cappucino hangat menjadi dingin seketika, saat aku lebih memilih untuk melamun, tidak untuk meminumnya. seperti senja yang hampir menjamur karena remaja penuh dosa, seperti datang menjawab segala kepenatannya dalam lubuk hati yang sebentar lagi diprediksi mengalami kehancuran.
adalah aku, yang masih menanti hingga esok datangnya hari, menunggu hingga nanti datangnya waktu. tetap di sini, di sudut subuh yang masih kita idolakan karena kenangan.
kali ini, cappucino masih belum nikmat, ketika teman-temanku berkicau tentang kebodohanku, seolah menunggu sesuatu yang aku seniri tak tah kapan kembalinya. meminjamkan hati pada seseorang yang aku tak mengerti orang itu siapa. dan aku tak berani menagihnya kembali.
seperti berdiri di ufuk fajar, yang masih beku karena embun yang berjajar, aku belum bisa melihat secerca cahaya terang dari jauh sana. seperti waktu yang masih kelabu, yang masih kupermainkan dalam zona abu-abu, dengan peranku, kata mereka aku babu. iya, babu cinta. menunggu kok derita!
hingga lambat laun tak jua kutemui kepudarannya. aku tanpa hiasan diri dan kelabu di ufuk hari kataku, lalu aku berjalan setapak ke depan lagi, dan ternyata masih kudapati penantian itu. penantian di samping orang baru yang tak dapat kupastikan perasaannya karenaku.
lalu mungkin hanya akan ada kedewasaan yang seharusnya membukakan segalanya, perihal jiwa dan duka lama, hanya dengan subuh itu, hanya dengan bangku coklat itu, dan hanya dengan gambar kenangan gitar tua itu.
Jumat, 21 Desember 2012
Goodnight task B)
dear kaluters, erlalu cepat untuk berkata selamat pagi ya? tapi ya sejujurnya ini sudah menginjak jendela menuju arah pagi huaha dan aku, masih terjaga belum bermimpi, belum mandi, dan mie ramen kiriman om langgeng menemani kewajiban dari pekerjaanku saat ini, mahasiswa. sebenernya sedikit bingung juga sih kenapa aku harus mengeluh dan trus mengeluh kalo dapet tugas menggunung kayak gimi. bicara timing? sepertinya, dalam sebuah pekerjaan, segalanya bisa terjadi baik kalo kita saling profesional.
tugas? siapa sih yang belum pernah dapet tugas? anak TK pun juga udah pernah dapet tugas lho. walopun kadar tgasnya mehyenangkan, mungkin cuman disuruh nggambar gunung dengan model 2 gundukan terus ada matahari ngintip dari celah-celahnya, ada jalan berkelok-kelok, sawah, dan 1 rumah yang tergambar di bawahnya. tapi, sekali lagi, namanya juga tugas, tugas ya tugas!
mungkin kadang kita lupa juga sih sama tulisan nama pekerjaan kita di KTP atau SIM. "pelajar/mahasiswa". kita sama-sama aja kayak PNS lho, sama-sama bekerja. mungkin pembedanya, sana dapet duit dari pemerintah, kita dari menteri perekonomian keluarga. kita juga dapet "nilai", lebih eksklusif sebenernya. bekal masa depan. sebenernya itu yang harus kita garis bawahin, tugas dan tugas, harus dikerjakan. meskipun kalo datengnya keroyokan, ga semaksimal harapan. seharusnya emang orang-orang itu ngeliat KTP atau SIMnya masing-masing kali ya, biar inget sama pekerjaannya huaha #selftalk.
sekarang, terlalu mainstream kalo kita ngeluhin tugas dimana-mana. bingung juga sih, apa-apa jadi mainstream sekarang. haha. tapi sejujurnya, ngeluhin tugas itu ngga bakal ada matinya. kayak jerawat, semakin dikeluhin semakin dia ngotot buat terus keluar dan kita semakin pilu ngrasainnya.
selain kita kudu inget kalo tugas merupakan implementasi dari pekerjaan kita saat ini, ada satu hal juga yang bikin kita ngga stres dan sedikit tertolong psikologisnya kalo lagi ngadepin tugas. segalanya jangan dikebut deh, step by step. seenggaknya kalian udah nyicil dan itu bakal jadi stimulus buat cicilan berikutnya :", daaaaaaan yang paling harus kalian benerin adalah, gimana kalian haruuus tetep bisa membedakan mana itu kepentingan tugas, mana kepentingan pribadi. jangan dibawa-bawa dicampur adukin lho, nanti endingnya bahaya, dan cukup tau semata. hehe. oke kaluters, itu cuma sponsor dan sedikit iklan semata. sejujurnya, itu cuman buat ngadepin boringnya ngerjain tugas saat ini -___________- sampai jumpaaa!
tugas? siapa sih yang belum pernah dapet tugas? anak TK pun juga udah pernah dapet tugas lho. walopun kadar tgasnya mehyenangkan, mungkin cuman disuruh nggambar gunung dengan model 2 gundukan terus ada matahari ngintip dari celah-celahnya, ada jalan berkelok-kelok, sawah, dan 1 rumah yang tergambar di bawahnya. tapi, sekali lagi, namanya juga tugas, tugas ya tugas!
mungkin kadang kita lupa juga sih sama tulisan nama pekerjaan kita di KTP atau SIM. "pelajar/mahasiswa". kita sama-sama aja kayak PNS lho, sama-sama bekerja. mungkin pembedanya, sana dapet duit dari pemerintah, kita dari menteri perekonomian keluarga. kita juga dapet "nilai", lebih eksklusif sebenernya. bekal masa depan. sebenernya itu yang harus kita garis bawahin, tugas dan tugas, harus dikerjakan. meskipun kalo datengnya keroyokan, ga semaksimal harapan. seharusnya emang orang-orang itu ngeliat KTP atau SIMnya masing-masing kali ya, biar inget sama pekerjaannya huaha #selftalk.
sekarang, terlalu mainstream kalo kita ngeluhin tugas dimana-mana. bingung juga sih, apa-apa jadi mainstream sekarang. haha. tapi sejujurnya, ngeluhin tugas itu ngga bakal ada matinya. kayak jerawat, semakin dikeluhin semakin dia ngotot buat terus keluar dan kita semakin pilu ngrasainnya.
selain kita kudu inget kalo tugas merupakan implementasi dari pekerjaan kita saat ini, ada satu hal juga yang bikin kita ngga stres dan sedikit tertolong psikologisnya kalo lagi ngadepin tugas. segalanya jangan dikebut deh, step by step. seenggaknya kalian udah nyicil dan itu bakal jadi stimulus buat cicilan berikutnya :", daaaaaaan yang paling harus kalian benerin adalah, gimana kalian haruuus tetep bisa membedakan mana itu kepentingan tugas, mana kepentingan pribadi. jangan dibawa-bawa dicampur adukin lho, nanti endingnya bahaya, dan cukup tau semata. hehe. oke kaluters, itu cuma sponsor dan sedikit iklan semata. sejujurnya, itu cuman buat ngadepin boringnya ngerjain tugas saat ini -___________- sampai jumpaaa!
Jumat, 07 Desember 2012
Dari Titik Aku Melihatmu
sendu dalam sore yang tak menentu
bagiku, ini sudut terbaik untuk mengingatmu
atas ufuk senja yang membantu
melukiskan bayang yang sempat di sampingku
dari titik aku melihatmu
masih di sini
di sudut bangku tua yang kau tempati
lalu, perlahan aku mengusapnya
memberi tanda cinta
sendiri
kamu tak lagi
seperti sekian hari aku sendiri
nyatanya, empat tahun sudut hati ini masih menanti
terlalu lama?
ah, kata orang, kadang cinta itu sia-sia
lagi,
dari titik aku melihatmu
kupikir, kamu pura tak menentu
hanya ingin tegaskan takdir padaku
tentang rasa yang tak mungkin bisa bertemu
kelam kata mereka tentangmu
apa harus kubilang atas cinta aku buta?
mereka lebih buta!
mereka tau cinta buta namun tegaskanku agar tak setia.
terus,
dari titik aku melihatmu
engkau hanya akan bersembunyi di penghujung tahun ini
sedang menulis kisah yang akan atau enggan kausembahkan untukku nanti
entah denganmu, atau orang baru
yang terus kau siapkan padaku
dan hingga nanti,
dari titik aku melihatmu
jika mungkin itu orang baru
kuyakini dialah budakmu
budak yang seharusnya menggantikanmu disisiku
walau kurasa, tak sedikitpun lebih baik darimu
waktu,
kamu mengatakan.
setia- obat peleburnya.
untukmu,
dari seseorang yang kau ajak sendiri mencinta.
Kamis, 15 November 2012
Sahabat Jadi Cinta?
selamat petang kaluters di seantero bumi jagad raya! piye kabare? buahaha kali ini aku bakal nulis sebuah tulisan singkat, tulisan busuk, dan tulisan yang telah terinspirasi dari kisah beberapa rekan-rekan di sekitar.
sahabat, dan cinta. sebuah kasus dalam sebuah rasa yang mungkin bisa jadi setiap orang hampir pernah mengalaminya. apa itu hakikinya sebuah makna persahabatan? lalu apa juga sebuah makna cinta? universal sekali bukan. daaaaaan gara-gara itu pula, atas dasar keuniversalannya, orang-orang sering menyalah artikan :))
sahabat. sebuah hubungan pertemanan yang sudah melampaui batas keintens-an komunikasi. lebih intim dari pertemanan yang lainnya, yang biasanya dilandasi dengan rasa kagum atau bahkan suka. nah, suka di sini niih perkaranya. suka, cenderung menuju cinta, dan cinta, takarannya beraneka macamnya. tahap mana nantinya yang dipijaki? itu urusanmu dengan hidupmu buehehe.
actually, salah juga lah ya kalo kamu menahan diri atas sebuah rasa yang dianugerahkan Tuhan untuk kamu, yang dinamakan cinta. tapiio lho ya, lebih salah lagi kalo kamu menyalah artikan sebuah kedekatan guys. sadar atau tidak, kamu mengkhianati sesuatu yang kamu bangun sendiri lah istilahnya. dan karena problematika sahabat dan cinta ini sering sekali menjadi bab kegalauan di setiap malam, maka, kewajiban kalian kalo udah ada sesuatu yang dirasa aneh dari proses persahabatan kalian, kalian harus memilah-milah semua itu. itu resep tersimpel tapi pelaksanaannya tersulit guys. percaya atau tidak, membatasi diri untuk kesana kesini itu sangatlah tidak gampang :))
jauh memandang ke depan, kalo kalian memaksakan diri untuk let it flow aja, banyak kasus yang bisa dijadikan contoh lho. kadang, hubungan interpersonal manusia yang sahabatan sama yang pacaran itu, lebih deket saat mereka sahabatan lho guys.jadii, bukan maksud hati buat membatasi rasa yang kalian miliki, tapi, pikir-pikir dulu lah ya demi kebaikan semua umat. iya kalo itu beneran cinta, kalo cuma letupan-letupan dari rasa itu aja? ihihihi.
dan yang ketiga, belum tentu juga dunia menerima hubungan percintaan kalian lho, bisa jadi dunia malah akan memandang miring apa yang kalian lakukan jikaaa kalian meneruskan hubungan yang kalian rasa bernama percintaan kekasih itu.
iyak cuma itusihh tulisan setengah satir, nyindir, dan sebenernya ingin menohok seseorang, yang cuma singkat, tapi bisa dipikir panjang-panjang dalam sebuah situasi yang tergambar. akhir kata, babay dan salam kaluters. you rock! hahah
Minggu, 11 November 2012
apalah arti sebuah pulpen?
sebuah pulpen? ya, mungkin salah satu dari kalian akan bertanya, apalah arti dari sebuah pulpen? atau mungkin bakal bertanya, kenapa harus mengobjekkan sebuah pulpen untuk tulisan curhat dalam blog? itu justru jawabannya. ya, objek, pulpen, dan curhat.
pernah kamu menyadari bagaimana kekuatan pulpen untuk menulis sesuatu yang tak mungkin kamu ingat selamanya tanpa bantuannya? ya, itu salah satu kekuatannya. kekuatan untuk memberi jalan kita mengingat sesuatu yang tak selamanya bisa kita ingat secara "lawaran"
pernah suatu ketika, aku mencintai seseorang yang seharusnya tak pantas aku cintai, namun hati ini terus memaksa, dan segalanya kutuangkan dalam sebuah catatan harian, dengan pulpen yang selalu bergelantung di bagian atasnya. hingga suatu ketika aku mulai menyaari bahwa mulutku tak sebegitu kuat untuk mengucap cinta. pikirku, hanya dalam catatan harian aku membagi rasa. untuk dia dan tentang dia. hingga suatu ketika saat kututup rapat satu halaman dengan serangkai cerita, yang seharusnya aku diam menjaganya, dengan tegas seseorang itu membuka dengan bangganya. ya, saat itu dan dengan itu dia melihat bagaimana aku mencintainya. memuja sesuatu yang tak pantas dipuja, menunggu sesuatu yang tak pantas ditunggu.
bukan salahku jika ia membacanya. aku hanya bertanggung jawab atas apa tulisanku, bukan apa yang dibacanya. hinggaa.... mungkin amarah, mungkin terkejut, dia hanya berpagut. lalu aku? tetap berpadu dengan tulisan itu, hingga menunggu datangnya jawaban.
kukira ia benci, karna aku memanfaatkan situasi. karna aku mencintai diam-diam dalam status yang tak baik lagi. oh, ternyata salah. dia mengalah, dan seolah memberi harapan yang bagiku terarah. terarah untuk membalas rasa, terarah untuk memberi cinta. hingga, kukira, saat itu saat bahagia. yang tak harus kuceritakan pada siapapun jua, termasuk buku harianku sendiri.
hari bahagia. entah berapa lama, entah seberapa kuat ia berpura-pura, hingga terungkaplah jua, ia hanya main-main semata. lalu? aku? ya, aku memilih mundur.. memilih untuk menunggunya kembali dari kepergiannya. menunggu dia berpikir keduakalinya. banyak kutulis saat itu tentang dia dengan yang lain, dan selalu ada aku yang mencoba masuk ditengahnya, untuk memberi sebuah kabar bahwa aku masih menunggu disampingnya, walau hingga kini, kukira penantianku sia-sia.
terus, hubungannya? ya. aku lupa. aku lupa apa yang sudah kulalui bersamanya dalam masa saat-saat bahagia. saat itu, pena tak tergores memberita. kertas tak tertulis selain menangis. dan kini yang kuingat? hanya derita, hanya duka. karena saat itu tak kutulis cinta dengan pulpen. karena hingga saat ini aku meyakini betapa berharganya sebuah pulpen untuk mengingat sebuah rangkaian cinta.
pernah kamu menyadari bagaimana kekuatan pulpen untuk menulis sesuatu yang tak mungkin kamu ingat selamanya tanpa bantuannya? ya, itu salah satu kekuatannya. kekuatan untuk memberi jalan kita mengingat sesuatu yang tak selamanya bisa kita ingat secara "lawaran"
pernah suatu ketika, aku mencintai seseorang yang seharusnya tak pantas aku cintai, namun hati ini terus memaksa, dan segalanya kutuangkan dalam sebuah catatan harian, dengan pulpen yang selalu bergelantung di bagian atasnya. hingga suatu ketika aku mulai menyaari bahwa mulutku tak sebegitu kuat untuk mengucap cinta. pikirku, hanya dalam catatan harian aku membagi rasa. untuk dia dan tentang dia. hingga suatu ketika saat kututup rapat satu halaman dengan serangkai cerita, yang seharusnya aku diam menjaganya, dengan tegas seseorang itu membuka dengan bangganya. ya, saat itu dan dengan itu dia melihat bagaimana aku mencintainya. memuja sesuatu yang tak pantas dipuja, menunggu sesuatu yang tak pantas ditunggu.
bukan salahku jika ia membacanya. aku hanya bertanggung jawab atas apa tulisanku, bukan apa yang dibacanya. hinggaa.... mungkin amarah, mungkin terkejut, dia hanya berpagut. lalu aku? tetap berpadu dengan tulisan itu, hingga menunggu datangnya jawaban.
kukira ia benci, karna aku memanfaatkan situasi. karna aku mencintai diam-diam dalam status yang tak baik lagi. oh, ternyata salah. dia mengalah, dan seolah memberi harapan yang bagiku terarah. terarah untuk membalas rasa, terarah untuk memberi cinta. hingga, kukira, saat itu saat bahagia. yang tak harus kuceritakan pada siapapun jua, termasuk buku harianku sendiri.
hari bahagia. entah berapa lama, entah seberapa kuat ia berpura-pura, hingga terungkaplah jua, ia hanya main-main semata. lalu? aku? ya, aku memilih mundur.. memilih untuk menunggunya kembali dari kepergiannya. menunggu dia berpikir keduakalinya. banyak kutulis saat itu tentang dia dengan yang lain, dan selalu ada aku yang mencoba masuk ditengahnya, untuk memberi sebuah kabar bahwa aku masih menunggu disampingnya, walau hingga kini, kukira penantianku sia-sia.
terus, hubungannya? ya. aku lupa. aku lupa apa yang sudah kulalui bersamanya dalam masa saat-saat bahagia. saat itu, pena tak tergores memberita. kertas tak tertulis selain menangis. dan kini yang kuingat? hanya derita, hanya duka. karena saat itu tak kutulis cinta dengan pulpen. karena hingga saat ini aku meyakini betapa berharganya sebuah pulpen untuk mengingat sebuah rangkaian cinta.
Minggu, 14 Oktober 2012
sajak tak beraturan untuk ayah yang kubanggakan
Lelaki tampan yang kukagumi. Dalam setiap tegas garis tubuhnya, menyimpan cinta yang selalu kuagungkan. Matanya yang coklat, karenanya aku tampak luar biasa. Hidungnya yang sempurna, bagiku lumrah wanita jatuh hati padanya. Ya, dia ayahku. Ayah yang kuat dan hidupnya keras. Dalam diamnya dia tegas, dalam marahnya dia mengasih.
Lelaki tampan itu menimangku hingga 5 tahun. Memberi kecupan dan asupan cinta yang berlebihan kala itu. Lelaki tampan yang belum bekerja, seorang sarjana administrasi negara yang merana. Namun kala itu ia bahagia, anak sulungnya tumbuh semakin istimewa.
Lelaki tampan yang kucintai. Mereka bilang kau jahat. Mereka bilang kau galak. Dan segalanya sempat berubah kala aku mendengarkannya. Dan segalanya semakin kuyakini saat kurasakan sandal melayang ke pipiku saat tak kudengar perintahmu. Hingga suatu masa, aku semakin yakin. Kau lelaki keras yang seram menurutku.
Dalam serammu kau mendidikku selama bertahun-tahun. Memberikanku gambaran akan arti hidup ini. Contoh kecilnya, menyuruhku untuk memilih sebuah perguruan tinggi dalam seleksi SNMPTN Undangan yang akhirnya..... aku tidak diterima. Kemudian dalam bingungmu, kau mengupayakanku untuk mendapatkan yang terbaik. Aku tahu, walaupun dalam sindir dan emosi yang sempat kau luapkan saat aku memilih untuk melanjutkan kuliah di salah satu universitas yang tak kau sukai.
Lelaki tampan itu..... Menangis. Saat ia tahu namaku tertera sebagai calon mahasiswa ilmu komunikasi brawijaya melalui snmptn tulis. Walau tak ditunjukkannya kepadaku, namun telingaku terlalu sensitif untuk mendengarkan ungkapan bahagia itu. Ungkapan yang lama tak kudengarkan. Ungkapan yang membuatku yakin apa itu cinta.
Suatu ketika, saat dokter menyatakan infeksi lambung ini sudah parah, lelaki tampan itu memberikanku semangat, bahwa aku harus berdiri tegap di atas penyakit yang selamanya kuderita. Lelaki tampan itu (sedikit) berhasil menghipnotisku. Dengan sigap, kembali aku dalam kehidupanku. Saat itu, bagiku kaulah power hidupku.
Waktu berjalan begitu cepat. Hingga kini, lelaki tampan itu menemui kenyataan yang tak sewajarnya ditemui oleh lelaki sehat sepertinya. Sel kanker yang dikandungnya, membuatnya lemah tak berdaya. Tak lagi keras, walau pandangannya masih tajam sesaat. Lelaki tampan itu tak sekuat biasanya.
Beberapa waktu kuputar kembali. Mengingatkan bagaimana ia menimangku dengan cinta yang ditransfer melalui wajah tampannya. Hingga kuteriakkan, ayah harus semangat! Meja operasi bukan final kehidupan. Ayah punya keluarga, ayah jangan menangis walau lelah! Dan kini kutau, ayahku tak sekuat petuah yang diberikannya kepadaku. Entah karena apa, mungkin karena sakit yang dideritanya mahadahsyat rasanya.
Lelaki tampan, aku hanya ingin engkau mengetahui satu hal. Dalam usiamu yang masih muda, aku ingin menjagamu agar kau tak lelah. Dalam jalanmu yang semakin membungkuk, dalam perutmu yang semakin membesar, dalam tubuhmu yang semakin kurus, aku tetap membanggakanmu sebagai lelaki tampan yang kucintai dan kubanggakan. Aku hanya ingin menciummu dengan tulisan ini. Dengan bumbu tangisan ini. Agar tak ada kesedihan yang kau ketahui. Agar kau tahu, aku disini untuk menjagamu, seperti 5 tahun yang kau berikan penuh untuk menimangku dengan cinta. Ayahku, jika suatu saat tulisan ini berhasil kau baca, ketahuilah dalam bisikmu aku bahagia. Aku ingin kembali melihatmu tersenyum, walau kutahu tak semudah itu kau membunuh rasa sakitmu. Ayahku yang kubanggakan, selamanya engkau terang di langit hidupku yang indah.
Langganan:
Postingan (Atom)


