Minggu, 01 Desember 2013

Ternyata, sebijaksana itu

beberapa di luar sana, bukan kamu, memilih untuk melakukan apa yang diinginkanya. dengan egonya, seolah-olah membentuk semesta mendukung pintanya. melakukan apa yang diimpikannya, seraya dengan inginnya, hingga akhirnya terbentuk realita.

beberapa di luar sana, masih bukan kamu, terus membingkai kesan bahwa bersama harus sama, bahwa cinta harus berdua, bahwa kisah tak mungkin dijalani di tempat yang berbeda. iya, masih bukan kamu,

dan hingga kemudian hatiku membaca sebuah stigma dari sudut pikiramu di ujung sana, tentang kita yang sebenar-benarnya bisa bertatap mata, bahkan melangkah dalam setiap tapak kisah. tapi angan jauh depan sana mengurungkanmu, tentang kita yang tak mungkin hingga akhir berpadu.

tersirat pintamu hangat, bahwa kisah tak selalu harus dipaksakan. bahwa kisah tak pernah selalu menuntut impian.

Jumat, 29 November 2013

Sabtu, 02 November 2013


yang belum sempat tertuliskan

menulis tentang kenangan teman, ditemani lagunya ipang yang sahabat kecil, ada yang lebih dramatis dari ini? :))

sepertinya sudah lama merasa sedemikian hingganya, aku ingin menghentikan waktu untuk menahan mereka. yang menemaniku dalam usia remaja. mereka menyebutnya sahabat kecil, iya sahabat kecil.

perjalanan waktuku terhenti sementara. kemudian dengan dada terbusung kumulai melihat silaunya hari lalu. saat awal kita bertemu di Juli 2008. saat setiap pagi kita bertemu di depan auditorium untuk sekedar mencukur rambut gratis. saat kita datang bukan untuk sekedar menerima pelajaran, namun lebih untuk inginnya mendengar cerita teman :))

secuil kisah yang tak terlupa. hingga secuil waktu pula tersisa untuk bertatap mata. temanku, mungkin pernah dalam tiga tahun dulu aku menyayat sedikit perasaanmu, apapun bentuknya. dan kemudian sekarang tidak akan ada masa untuk melewatkan saat-saat bersamamu lagi. meskipun saat ini, 6 hari mulai jam 6.45 hingga 16.00 harus tergantikan dengan 3 jam seminggu sekali.

Sabtu, 11 Mei 2013

fawk ::))

hingga beranjak dewasa, namanya masih tetap Nandha. masih manusia yang tumbuh dengan kepura-puraan, kepura-puraan untuk lebih bahagia dari apapun yang telah membahagiakannya.

kemudian ia berjalan ke depan, masih ke depan, berharap untuk terus hidup. sesekali ia menengok ke belakang, hanya untuk memastikan perjalanannya tak sia-sia. hanya untuk memastikan, masih ada yang mencintainya menunggu di belakangnya, entah jauh, entah kemudian menyerah patah tak berarah.

ketika ia merasa mendekati segalanya, kemudian apa yang telah diinginkannya berhasil kembali membiusnya untuk berfoya-foya, dia terlena terlupa. terlupa ada yang menantinya di belakang sana. dan kemudian, terpaku dan mengambil satu hidup baru. itulah alasannya, hingga kini dunianya berpura. penuh kehancuran tertutup canda tawa.

#ifyouknowwhatimean :))

Minggu, 28 April 2013

hingga larut malam

Hingga larut malam membungkus keingintahuanku untuk mencintaimu, aku masih bergumam tak menepis kegundahan. apa yang kunanti selama ini, misteri hati mati hingga nanti.

mimpi yang semakin beterbangan di luar sana, yang kulihat abadi hingga dia kembali nanti, entah kapan kuminta kesini, entah jawabannya, kubiarkan dia berkelana.

aku tak menjalaninya sendiri, akulah yang berpeluk dengan kerinduan. ya. aku dan kerinduanku. dua bidang sejajar yang terus duduk termenung melihatmu berjalan ke depan sana.

senyum dan angan. harapan. hanya harapan. harapan, sekedar kenangan.

Kamis, 18 April 2013

aromaterapi penghias kerinduan

ada secuil kekaguman untuk mereka, yang selalu dengan lugas melihat perpisahan sebagai alat toleransi, bukan sebagai sebuah kegagalan.


ketika sepasang manusia yang telah diciptakan oleh Tuhan menentukan satu titik di ujung sana, masih banyak setapak waktu yang harus dilaluinya. bukan hanya satu dariku, tapi dua untuk kita. ketika aku berjalan sendiri menuju titik yang kurasa mustahil nantinya, jalan yang lain yang kau tapaki justru mengingatkanku bahwa mimpi telah membuaikan kita, jauh hingga saat aku hampir menuju berdua.

ketika langit sudah meninggi di sana, aku seperti jatuh dari buaian mimpi itu, lalu ada hujan dan perasaan yang semestinya terkenang. lalu timbul duka derita, dan fana dunia. apa yang dianggapnya semu biarlah sebegitupula adanya. mungkin hanya satu jalan nanti untuk menuju ke titik itu, menatap, dan hanya menata apa yang seharusnya terlindungi, dari jalan yang sudah tak lagi seirama.

lalu aku berusaha mengepakkan sayap yang kukira bisa menarikmu perlahan, cepat atau lambat. hingga kemudian, cepat atau lambat pula, kukira semuanya sudah terlambat. ya, aku yang terlalu sibuk mengurus egoku untuk menuntut jalan yang sudah tak seirama, aku yang terlalu sibuk atas perkataan yang kutata untuk memaksamu menyamakanku, hingga kemudian perlahan semuanya fana kembali, tak ada pinta, tak ada coba tanya. kemudian di ujung sana titik itu kembali jauh, bukan aku yang kembali ke langkah awal aku memulai, tapi ada satu hal di luar jalanku yang terasa hilang. hilang dalam perbedaan.

ketika kemudian tiada lagi yang harus diungkapkan dan dibangunkan. adalah kesetiaan untuk membuka mimpi yang dulu bercerita dan meninggalkan jejak. lalu cerita itu memformulasikan kehadiranmu lagi sebagai aromaterapi penghias kerinduan. hingga sepenuhnya aku sadar bahwa kamu masih tetap di jalan itu, namun terhenti tak lagi mencoba menyamakanku.

ketika semua masih sama menunjuk ke tulangmu yang kaugunakan untuk menggandengku perlahan, kemudian seketika terang menjatuhi hujan yang diciptakan. ketika kemudian Tuhan semakin memperlihatkan sejauh mana jalan kita tak simetri, hanya nanti yang bersinergi dengan waktu yang akan ada untuk menjawab teka-teki itu. dan entah mengapa, sejauh ini, aku masih belum mengerti. sebagaimana aku harus menghargai logika yang tak senada, dengan apa aku harus memeluk egoku sendiri, sendiri, dan sendirian. hingga masanya kulihat tenang nanti dari kejauhan, kamu di satu jalan yang masih tetap berjejak sama denganku, hingga sadar dia hadir sebagai penerang dalam petualangan menuju titik dulu. aku beristirahat sejenak, untuk meihat kebahagiaanmu, dan aku akan menyusul kemudian, entah dengan siapa, atau bahkan sendirian.