Jumat, 19 Oktober 2012

Tulisan Miring dari Mahasiswa yang Ingin Bahagia

Semacam kebingungan. Ya, bingung. Semester 3 ini kenapa begitu membahana sekali, Bapaaaak Ibuuuuuk. Banyak tanggungan sana sini yang harus dikerjakan. Banyak tugas sana sini yang harus dibereskan. Banyak duit sana sini yang harus rela dikeluarkan. Dan banyak cinta sana sini yang selalu digantungkan *eh maap*

Teriakan dari seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Brawijaya semester 3 yang ingin refreshiiiiing! Namun niat saat ini tak sebanding dengan proximity. Apalagi dengan waktu. Allahuakbar, aku masih ingin hidup tanpa beban.

Semester 3, cepatlah berlalu dan diiringi oleh pelangi yang menggantikannya. Aku ingin hidup sehat. Bukan hidup berpeluk tugas. Semester 3, aku ingin cinta, setidaknya untuk teman begadang ngerjain tugas *eh salahfokus -____________-*

Minggu, 14 Oktober 2012

sajak tak beraturan untuk ayah yang kubanggakan





Lelaki tampan yang kukagumi. Dalam setiap tegas garis tubuhnya, menyimpan cinta yang selalu kuagungkan. Matanya yang coklat, karenanya aku tampak luar biasa. Hidungnya yang sempurna, bagiku lumrah wanita jatuh hati padanya. Ya, dia ayahku. Ayah yang kuat dan hidupnya keras. Dalam diamnya dia tegas, dalam marahnya dia mengasih.

Lelaki tampan itu menimangku hingga 5 tahun. Memberi kecupan dan asupan cinta yang berlebihan kala itu. Lelaki tampan yang belum bekerja, seorang sarjana administrasi negara yang merana. Namun kala itu ia bahagia, anak sulungnya tumbuh semakin istimewa.

Lelaki tampan yang kucintai. Mereka bilang kau jahat. Mereka bilang kau galak. Dan segalanya sempat berubah kala aku mendengarkannya. Dan segalanya semakin kuyakini saat kurasakan sandal melayang ke pipiku saat tak kudengar perintahmu. Hingga suatu masa, aku semakin yakin. Kau lelaki keras yang seram menurutku.

Dalam serammu kau mendidikku selama bertahun-tahun. Memberikanku gambaran akan arti hidup ini. Contoh kecilnya, menyuruhku untuk memilih sebuah perguruan tinggi dalam seleksi SNMPTN Undangan yang akhirnya..... aku tidak diterima. Kemudian dalam bingungmu, kau mengupayakanku untuk mendapatkan yang terbaik. Aku tahu, walaupun dalam sindir dan emosi yang sempat kau luapkan saat aku memilih untuk melanjutkan kuliah di salah satu universitas yang tak kau sukai.

Lelaki tampan itu..... Menangis. Saat ia tahu namaku tertera sebagai calon mahasiswa ilmu komunikasi brawijaya melalui snmptn tulis. Walau tak ditunjukkannya kepadaku, namun telingaku terlalu sensitif untuk mendengarkan ungkapan bahagia itu. Ungkapan yang lama tak kudengarkan. Ungkapan yang membuatku yakin apa itu cinta.

Suatu ketika, saat dokter menyatakan infeksi lambung ini sudah parah, lelaki tampan itu memberikanku semangat, bahwa aku harus berdiri tegap di atas penyakit yang selamanya kuderita. Lelaki tampan itu (sedikit) berhasil menghipnotisku. Dengan sigap, kembali aku dalam kehidupanku. Saat itu, bagiku kaulah power hidupku.

Waktu berjalan begitu cepat. Hingga kini, lelaki tampan itu menemui kenyataan yang tak sewajarnya ditemui oleh lelaki sehat sepertinya. Sel kanker yang dikandungnya, membuatnya lemah tak berdaya. Tak lagi keras, walau pandangannya masih tajam sesaat. Lelaki tampan itu tak sekuat biasanya.

Beberapa waktu kuputar kembali. Mengingatkan bagaimana ia menimangku dengan cinta yang ditransfer melalui wajah tampannya. Hingga kuteriakkan, ayah harus semangat! Meja operasi bukan final kehidupan. Ayah punya keluarga, ayah jangan menangis walau lelah! Dan kini kutau, ayahku tak sekuat petuah yang diberikannya kepadaku. Entah karena apa, mungkin karena sakit yang dideritanya mahadahsyat rasanya.

Lelaki tampan, aku hanya ingin engkau mengetahui satu hal. Dalam usiamu yang masih muda, aku ingin menjagamu agar kau tak lelah. Dalam jalanmu yang semakin membungkuk, dalam perutmu yang semakin membesar, dalam tubuhmu yang semakin kurus, aku tetap membanggakanmu sebagai lelaki tampan yang kucintai dan kubanggakan. Aku hanya ingin menciummu dengan tulisan ini. Dengan bumbu tangisan ini. Agar tak ada kesedihan yang kau ketahui. Agar kau tahu, aku disini untuk menjagamu, seperti 5 tahun yang kau berikan penuh untuk menimangku dengan cinta. Ayahku, jika suatu saat tulisan ini berhasil kau baca, ketahuilah dalam bisikmu aku bahagia. Aku ingin kembali melihatmu tersenyum, walau kutahu tak semudah itu kau membunuh rasa sakitmu. Ayahku yang kubanggakan, selamanya engkau terang di langit hidupku yang indah.

Minggu, 23 September 2012

Pelajaran Hidup yang Teramat Berharga ;')

Selamat pagi dunia. Selamat berhari minggu ceria :')
Sudah sekian lama nggak berseteru di area penulisan blog, kali ini saya kembali dengan segenap hal yang tidak bisa untuk dipendam, sendiri.

Hari minggu, 23 Septermber 2012, hari ke 7 ayah menginap di rumah sakit ini. Banyak kejadian yang bisa dijadikan pengalaman dari sini. Menjadi hal yang dapat diperhitungkan ke depannya lagi. Meja operasi... Ternyata lebih seram dari apa yang kubayangkan sebelumnya. Mungkin karena operasi besar yang di derita ayah dan rasa sakit yang ditahannya berhari-hari. Aku mengenal ayah sebagai pribadi yang tanguh dan kuat menahan rasa pedih, tapi ini? Oh, sepertinya rasa sakit menguasai segenap ketangguhannya.

Sempat drop dan ayah merasa ada yang menarik-narik badannya, membuat saya dan keluarga sempat shock, bingung, dan miris hati saat melihat beliau kesakitan, dan saat itu tiada tempat untuk berbagi tangis selain Allah. Saat itu, masjid adalah area dan diary yang paling leluasa untuk menumpahkan tangis tentang pelik hidup ini :'). Sendiri. Sepi. Kalut. Dan, semoga Allah masih setia untuk mengingatkan kelalaianku seperti ini.

Pada hari ketiga, salah satu hal yang membuat saya sedikit senang adalah ketika ayah mendapatkan teman sekamar yang juga menderita sakit yang sama. Bahkan lebih parah. Ya, tumor ganas. Beberapa hari dalam sebulan sekali beliau harus ke Kediri untuk melakukan kemoterapi. Katanya, di Semarang belum ada fasilitasnya. Namun ada yang membuat saya salut kepadanya, kegigihannya. Tiada keluhan, tiada kesedihan, dan tiada tangis yang beliau teteskan. Banyak tutur kata yang bisa dijadikan pelajaran kepada kehidupan saya dan keluarga. Salah satu yang membuat saya tersentuh adalah, "saya nggak pernah berusaha ngasih makan anak saya yang bergizi mas, yang penting saya ngasih makanan yang halal". Itu yang selama ini dilakukan ayah saya kepada keluarga kecil ini. Haru, ketika melihat ayah saya terbaring lemah dengan wajah sangat pucat melihat kanan kiri dengan tatapan mata coklatnya yang teramat kosoong.

"Mas, sekarang mas fokus saja semangatin bapak"
Ya, itu perkataan bapak sekamar yang sampai saat ini saya belum mengetahui siapa namanya. Semangat? Ya, walaupun saya sendiri terkadang kehilangan semangat untuk hidup. Namun bapak itu dengan gigih terus memberi pengertian kepada saya, tentang bagaimana kondisi seorang ayah yang membutuhkan anak dan istrinya untuk tetap di sampingnya. "Beruntung bapak sampean punya anak yang mau berkorban untuk ayahnya", ya, berkorban waktu :') mungkin hanya itu yang mampu saya berikan kepada ayah selain doa dan semangat yang saya paksakan.

Hal terbesar yang mampu saya ambil dari sini adalah betapa cara Tuhan mengingatkan bagaimana agar hambanya kembali mengingatnya dengan tertatih. Betapa cara Tuhan memberi meringatan hanya dengan sentilan lirihnya, dan kini biarkan Tuhan bekerja dengan apapun caranya dan kami menunggu hasil lab tentang tumor yang diderita Ayah. Dari ayah, tak gentar jika harus menghadapi tumor ganas untuk kemoterapi dalam waktu 6x. Setidaknya, hal ini untuk pendewasaan diri kami semua yang sempat lupa akan Tuhannya :')

Sabtu, 15 September 2012

The Power of BestFriendship

Setelah sekian lamanya vakum di dunia penulisan blog karena beberapa masalah yang menggeluti diri, batin, dan nurani, alhamdulillah bisa berkesempatan untuk menuliskan keluh kesah tiap harian di sinikembali. Give thanks to Allah! Huehhe.

Akhir-akhir ini memang santer masalah datang dan pergi dalam kedilemaan hidup. Yak, apalagi kalo bukan keluarga kecil yang kucintai ini. Banyak keluh kesah dariku, atas kesehatan orang tuaku. Ayah. Hari ini adalah detik-detik menjelang hari H, jam J, menit M, dan detik D ayah di operasi. Tentunya karena penyakit tumor di perut yang bagiku sudah merupakan penyakit hebat yang cukup menghancurkan mood-ku akhir-akhir ini. Beruntung sudah adikku yang paling cantik sudah sembuh dari luka, bengkak, dan kesalahan otot akibat kecelakaannya beberapa waktu yang lalu. Setidaknya, mengurangi beban pikiran yang sudah sumpek dan penat. Hampir tidak mampu untuk berpikir lebih baik dan tenang.

Mami. Dialah Ibu kesayanganku. Malaikat terbaik yang sudah dikirimkan Tuhan untuk mendoakanku dalam doa-doa yang selalu terucap dalam setiap perkataannya. Beliau adalah olah ter-porak poranda saat ini. Sering tidak tidur di malam hari, dan berpikir keras di siang hari. Tentunya, dengan tangis miris yang selalu menemaninya akibat penyakit ayah ini. Alhasil, terkadang sakit juga menyerangnya. Lalu, siapa tega? Anak mana yang mampu melihat Ayahnya sakit seperti ini dengan keadaan Ibunya yang sudah hampir rapuh?

Disinilah aku. Menempati sisi dimana harus berdoa dan bertindak di luar batas kewajaran. Dalam diam, dalam tulisan, kudoakan ayah mendapat kesehatan yang jauh lebih baik dari hari ini dan sebelumnya. Dalam diam aku mencoba mendoakan ibu agar tak dikuasai oleh rasa panik dan penuh kebingungan. Walaupun, percaya atau tidak, sebenarnya aku tak sekuat ibu dalam menjalani ini semua.

Lalu? Siapa yang memberikan ketegaran kepadaku? Tidak mungkin kutunjukkan segala kegundahan hati ini pada keluarga kecilku. Kemana aku lari? Tante, Om, Eyang, dan tidak lain tidak bukan........ Bestfriend!

Memang tidak mudah untuk berkata, kamulah best-friendku. Setidaknya untuk saat ini, kondisi rapuh membuatku tidak tau apa itu berfikir secara jernih. Blank! Bahkan enervon-C pun tidak mampu mengembalikan konsentrasiku. Huaaaa. Tapi setidaknya, merekalah yang memberikan suntikan semangat terindah kepadaku. Dengan hujanan "cepat sembuh ya buat ayahmu" atau "GWS buat ayahmu" dan malah "GWS Om Hadi Purnomo"  setidaknya mampu mengembalikan kepercayaan bahwa saya tidak sendirian.... Thanks :)

Mungkin tidak berhenti di situ saja, karena hidup adalah tentang sebuah proses. Maka, dalam menjalani hari-hari, adalah mereka yang memberikan lelucon, dan sejumlah komedi yang membuat saya menjadi lebih tegar lagi. Termasuk mereka. Ilmu Komunikasi Brawijaya 2011, hujanan mention, BBM, sms, yang selalu memberi semangat, bahkan menanyakan kondisi saya dan keluarga saya. Padahal, jika dipikir, emang mereka udah tau kayak apa keluarga saya? Sampai sebegitunya memberikan suntikan semangat seperti ini. Tapi..... Itulah yang disebut dengan the power of BestFriendship. Rasa saling percaya :)

Jika membicarakan masalah bestfriend yang saya miliki, ah, terlalu banyak jika harus menyebutnya satu-satu. Mereka ikut mendoakan kesehatan Om Hadi dan kestabilan keluarga saya. Memberikan saya saran dan kesan saat pikiran jernih tak mendominasi otak ini. Entah itu tebihers, Makuta, FST, rivana cs, SEMBILAN H, SMAST 2011, geng bodir, DCASN, UBFM, atlet-atlet voli, dan yang lain yang memberikan saya pemikiran yang bagi saya "lain" banget, tapi itulah pikiran terjernih yang mungkin sekarang belum saya dapatkan. Itulah The Power of Bestfriendship dari mereka..... Pikiran jernih yang menentramkan hati :)

Dengan segala doa yang sudah tersampaikan, semoga Allah mendengar dan membalas segala kebaikan yang telah kalian berikan, guys. Salut, kagum, dan haru bercampur menjadi satu. Tapi itulah yang menyebabkan saya "tatag" dan lebih siap untuk mendoakan kesehatan ayah saya dan menjaganya. Karena.... The Power of Bestfriendship :')

Sabtu, 01 September 2012

PHP? Mmmmmm.... Ga takut lagiiiii :D

Halo gaulers dan galauers! *eh -_- berjumpa kembali bersama penulis aneh, alay, singkat, dan kadang tidak jelas yang satu ini, ihihihih. Semacam kedinginan juga ya nulis di tengah malam kaya gini, tanpa kopi dan tanpa teman penambah inspirasi. Katanya sih, tadi ada yang mau nemenin, tapi ternyata, udah ditinggal tidur duluan ~

Anyway, itu baru yang dinamakan salah satu tindakan yang kurang menyenangkan dari PHP-ers.  Memang harus ada janji yang terucap sebelum segalanya binasa oleh janji manis kias semata *halah. Huahaha. Oh iya, ternyata ya, PHP itu singkatanya banyak banget lho, tapi yang dibahas disini adalah pemberi harapan palsu. Hmm, namanya juga masih muda, ya cinta-cintaan kaan objeknya :))

Kembali mengacu pada tulisan diatas, "namanya juga masih muda", yang muda yang ceria, yang muda pejuang bangsa. Baguslah sudah ya gaes kalo kita sebagai pemuda memiliki taktik dan strategi masing-masing dalam hidup, namun ada satu yang sering kelupaan, kadang kita hanya memikirkan apa yang tampak dalam diri kita hari ini, dan melupakan sesuatu yang terjadi di panjang hari kemudian. Paham ngga maksudnya? Mmm, gini sudah. Pernah gak kalian menangis saat kalian ngga diterima SNMPTN Undangan? Disitulah letak permainannya. Beberapa orang berhenti di titik "sabar dan legowo", dan sebagian lain lanjut ke titik "frustasi dan depresi" padahal kaan, hidup ngga berhenti di satu hari. Pengaruhnya? Memang banyak faktor yang mempengaruhi kemana manusia bisa mengkategorikan dirinya ke dalam 2 ciri tersebut. Dan, faktor yang paling besar berpengaruh adalah psikologis, dan bagi saya, persepsi adalah jawabannya. Kekuatan persepsi yang begitu membara, kalau penggunaannya benar dan dilakukan secara terus menerus, tentunya ketegaran diri dan kehebatan-kehebatan yang lain dalam diri kita akan ikut muncul lho gaes. Dan itulah kenapa, kamu bisa mempersepsikan kalo diri kamu, saat ini adalah korban PHP. Dan dari contoh ngga keterima SNMPTN Undangan itu tadi, kamu bisa mengevaluasi itu semua kok. Jangan lupa kalau masih banyak jalan alternatif di luar sana. Hidup tidak berhenti karena itu aja kok gaes, kamu jadi korban PHP? Ya balas dendam lah! *eh

Mungkin daripada tulisan ini mbulet dan objeknya meluasnya berlebihan, saya jelasin yaa. Kebanyakan di era kegaulan saat ini, remaja dan para pemain cinta mencintai kata PHP. Ya, dikit-dikit dikecewain bilang PHP, ga sreg dikit bilang PHP. Dan itulah kemelut dari diri mereka sendiri. PHP adalah kemelut dari diri mereka sendiri Lanjut gaes, ke contoh SNMPTN Undangan tadi. Dia ga bisa disebut sebagai salah satu PHP-ers lho, karena SNMPTN Undangan tidak pernah menjanjikan kepada pendaftarnya untuk LOLOS! Dan di situ letak kunci permasalahan remaja saat ini. Persepsi remaja saat ini, terutama buat kaum PD-ers, adalah "semua mata tertuju padamu". Persepsinya bisa salah di sini, terlalu membahana kalo kamu bilang kamu pesona harian lingkunganmu. Gunakan persepsi "Aku istimewa, dan cukup di sini saja" dan mainkan perasaan malu-mu, kemungkinan besar jiwamu akan segera terobati. Ah sadaaap! Seperti kalo kamu membaca buku berulang-ulang, menurut kamu tetep ada aja kan bagian yang belum tebaca? Ya, itulah persepsi dalam bahasa yang lebih rumitnya.

Contoh yang lain. Pernahkah seseorang yang kamu idolakan melempar senyum manisnya di hadapanmu?. Pasti langsung berbunga-bunga ya? Seolah-olah bagimu, dia mengerti apa yang kamu rasakan. Dan tepat di ujung itu kamu bagaikan seseorang yang diharapkannya untuk juga mendampinginya? SALAH gaes! Itulah kenapa saya bilang hidup tidak berhenti di hari itu saja. Masih banyak hari yang harus kamu pertimbangkan untuk melangkah dengan lebih menawan. Ayooo persepsikan saat itu hanyalah buaian semata dari sang Ilahi. Tidak salah untuk melempar senyum balik, setidaknya untuk membalas sapaan hati, namun, bentengi diri, karena itulah senjata agar kamu tidak terjatuh tersungkur saat menemukan dia sudah bersama yang lain. Dan itulah benteng agar kamu tidak menjadi manusia yang dikit-dikit pasang status "Ah, di PHPin dia :("

Dan jika ternyata kamu sudah merasa hal itu sudah terjadi sebelum kamu membaca tulisan ini, maka putar kembali posisi itu, kembali mainkan persepsi "Aku istimewa, dan cukup di sini saja". Istimewakan dirimu sendiri, untuk dirimu sendiri!! Rutinkan, dan kamu akan balik mem-PHP orang lain hiahahahaha hiiiiahahahaha *ketawa ala nenek lampir* *yagak gitu juga kaliii -_-*

Sebenernya gaes, maksud hati tulisan saya ini tadi adalah ingin membuka sesuatu yang belum terbuka *eh huaha jadi saya ingin kalian melihat yang belum kalian lihat tapi sebenarnya kalian bisa melihatnya dari dulu. Ya, inner, Evaluasikan diri kalian setiap peristiwa, karena PHP sebenernya adalah permasalahan yang bermula dari ke PD an dan itu terjadi di dalam diri kalian sendiri. Bukan maksud hati ingin menghentikan rasa percaya diri kalian, namun percayalah, segalanya itu harus dibentengi. Karena sesungguhnya, dunia tidak menginginkan akan terjadinya bedol desa manusia alay yang selalu menyalahkan orang lain (dalam hal ini, PHP adalah salah satu seni menyalahkan orang lain juga) ~ berhenti untuk menyalahkan orang lain sebelum menyalahkan diri sendiri ya gaes, karena "Aku istimewa, dan cukup di sini saja". Babaaay dan semoga tulisan kecil yang penuh makna kalo dibaca dengan tulus ikhlas ini bermanfaaaaaat :)))'


~~~ ini bukan owntalk maupun curhat pribadi yang menggebu-gebu, ini hanya tulisan krik-krik yang menimbulkan kecanduan dan penyakit rindu menahun ~~~

Rabu, 29 Agustus 2012

Senja dan Segala Kesenduan

Senja di ufuk barat. Kulihatnya masih setia dengan gunung itu. Kulihatnya diam, kulihatnya sendu. Kulihat diriku sendiri, gundah dalam sendu. Aku tak sesetia senja itu. Aku tak semenarik gunung itu. Segalanya sama. Diam dalam harapan.



Kali ini aku mengalah. Tiada ruang yang larut dalam sebuah kebahagiaan. Inilah kala senja. Kala aku bersetubuh dengan kesenduan. Kesenduan yang kubuat sendiri, tentunya dengan bumbu masa lalu.

Kesalahan? Ya, mungkin itu. Hidup ini terlalu berdiorama. Aku tak mampu menebak cikal kepahitan itu, cikal kenestapaan itu. Ya, inilah aku dengan segala kesenduan. Masih rindu, namun tak seperti senja dan gunung itu.


Tarian ilalang bumbui bimbang. Kali ini tiada ruang untuk beradu kembali. Tiada ruang untuk mengerti lebih mengerti. Aku hidup tanpa atap. Lebat di atasku, dingin di bawahku. Dan aku tak kuat. Karena aku masih tak layak senja dan gunung itu



Usah kusimpan lara ini. Hanya sendu yang kubiarkan menari-nari dalam pikiran tanpa kejelasan. Biar kuartikan dalam ketimpangan hidupku sendiri. Menari, dalam kesenduan. Mengerti, dalam kebodohan. Dan hingga fajar kembali lagi. Aku masih beku dan belum mati. Menunggu senja tak bersama gunung itu lagi,

Aku ingin menggantikan gunung itu. Diam, dan dihampiri sang senja. Bahkan, si balita pun tau, sang senja memeluk gunung itu dari belakang. Sang senja tenang di balik sang diam. Sang senja terpejam di tempat kebahagiaan. Dan sekali lagi, aku ingin menggantikan gunung itu

Selasa, 21 Agustus 2012

akulah kebodohan!

Temaram dan maghrib
berbalut sebuah pesakitan
yang berlari di sudut kota tua

berhenti dia sejenak
di ujung perempatan dia terjatuh
mencari kawanannya
yang perlahan menghilang

dia kembali ke jalan sebelumnya
sejengkal dia berlari ke masa lalu
mencari kawanannya
mencari kemana ia ditinggalkan

sejenak malam meradang
maghrib ciptakan garis penenggelam hari
dia menangis
terbenam bersama tarian rembulan petang

dia berhenti sesaat
menyadari jalan yang tadi ia lewati
menangis berbalas
dia lupa tempat dia melaju tadi

dia kehilangan waktunya
tak bersambut lagi dengan sebuah kebahagiaan
direngkuhnya penyesalan
dia tertahan di jalan sebelumnya

dialah aku!
dialah yang kehilangan jejak indah di masa depannya
dialah kebodohan!
dialah yang berjuang untuk menemukan masa lalunya
dan akulah kebodohan itu!