Minggu, 23 September 2012

Pelajaran Hidup yang Teramat Berharga ;')

Selamat pagi dunia. Selamat berhari minggu ceria :')
Sudah sekian lama nggak berseteru di area penulisan blog, kali ini saya kembali dengan segenap hal yang tidak bisa untuk dipendam, sendiri.

Hari minggu, 23 Septermber 2012, hari ke 7 ayah menginap di rumah sakit ini. Banyak kejadian yang bisa dijadikan pengalaman dari sini. Menjadi hal yang dapat diperhitungkan ke depannya lagi. Meja operasi... Ternyata lebih seram dari apa yang kubayangkan sebelumnya. Mungkin karena operasi besar yang di derita ayah dan rasa sakit yang ditahannya berhari-hari. Aku mengenal ayah sebagai pribadi yang tanguh dan kuat menahan rasa pedih, tapi ini? Oh, sepertinya rasa sakit menguasai segenap ketangguhannya.

Sempat drop dan ayah merasa ada yang menarik-narik badannya, membuat saya dan keluarga sempat shock, bingung, dan miris hati saat melihat beliau kesakitan, dan saat itu tiada tempat untuk berbagi tangis selain Allah. Saat itu, masjid adalah area dan diary yang paling leluasa untuk menumpahkan tangis tentang pelik hidup ini :'). Sendiri. Sepi. Kalut. Dan, semoga Allah masih setia untuk mengingatkan kelalaianku seperti ini.

Pada hari ketiga, salah satu hal yang membuat saya sedikit senang adalah ketika ayah mendapatkan teman sekamar yang juga menderita sakit yang sama. Bahkan lebih parah. Ya, tumor ganas. Beberapa hari dalam sebulan sekali beliau harus ke Kediri untuk melakukan kemoterapi. Katanya, di Semarang belum ada fasilitasnya. Namun ada yang membuat saya salut kepadanya, kegigihannya. Tiada keluhan, tiada kesedihan, dan tiada tangis yang beliau teteskan. Banyak tutur kata yang bisa dijadikan pelajaran kepada kehidupan saya dan keluarga. Salah satu yang membuat saya tersentuh adalah, "saya nggak pernah berusaha ngasih makan anak saya yang bergizi mas, yang penting saya ngasih makanan yang halal". Itu yang selama ini dilakukan ayah saya kepada keluarga kecil ini. Haru, ketika melihat ayah saya terbaring lemah dengan wajah sangat pucat melihat kanan kiri dengan tatapan mata coklatnya yang teramat kosoong.

"Mas, sekarang mas fokus saja semangatin bapak"
Ya, itu perkataan bapak sekamar yang sampai saat ini saya belum mengetahui siapa namanya. Semangat? Ya, walaupun saya sendiri terkadang kehilangan semangat untuk hidup. Namun bapak itu dengan gigih terus memberi pengertian kepada saya, tentang bagaimana kondisi seorang ayah yang membutuhkan anak dan istrinya untuk tetap di sampingnya. "Beruntung bapak sampean punya anak yang mau berkorban untuk ayahnya", ya, berkorban waktu :') mungkin hanya itu yang mampu saya berikan kepada ayah selain doa dan semangat yang saya paksakan.

Hal terbesar yang mampu saya ambil dari sini adalah betapa cara Tuhan mengingatkan bagaimana agar hambanya kembali mengingatnya dengan tertatih. Betapa cara Tuhan memberi meringatan hanya dengan sentilan lirihnya, dan kini biarkan Tuhan bekerja dengan apapun caranya dan kami menunggu hasil lab tentang tumor yang diderita Ayah. Dari ayah, tak gentar jika harus menghadapi tumor ganas untuk kemoterapi dalam waktu 6x. Setidaknya, hal ini untuk pendewasaan diri kami semua yang sempat lupa akan Tuhannya :')

Sabtu, 15 September 2012

The Power of BestFriendship

Setelah sekian lamanya vakum di dunia penulisan blog karena beberapa masalah yang menggeluti diri, batin, dan nurani, alhamdulillah bisa berkesempatan untuk menuliskan keluh kesah tiap harian di sinikembali. Give thanks to Allah! Huehhe.

Akhir-akhir ini memang santer masalah datang dan pergi dalam kedilemaan hidup. Yak, apalagi kalo bukan keluarga kecil yang kucintai ini. Banyak keluh kesah dariku, atas kesehatan orang tuaku. Ayah. Hari ini adalah detik-detik menjelang hari H, jam J, menit M, dan detik D ayah di operasi. Tentunya karena penyakit tumor di perut yang bagiku sudah merupakan penyakit hebat yang cukup menghancurkan mood-ku akhir-akhir ini. Beruntung sudah adikku yang paling cantik sudah sembuh dari luka, bengkak, dan kesalahan otot akibat kecelakaannya beberapa waktu yang lalu. Setidaknya, mengurangi beban pikiran yang sudah sumpek dan penat. Hampir tidak mampu untuk berpikir lebih baik dan tenang.

Mami. Dialah Ibu kesayanganku. Malaikat terbaik yang sudah dikirimkan Tuhan untuk mendoakanku dalam doa-doa yang selalu terucap dalam setiap perkataannya. Beliau adalah olah ter-porak poranda saat ini. Sering tidak tidur di malam hari, dan berpikir keras di siang hari. Tentunya, dengan tangis miris yang selalu menemaninya akibat penyakit ayah ini. Alhasil, terkadang sakit juga menyerangnya. Lalu, siapa tega? Anak mana yang mampu melihat Ayahnya sakit seperti ini dengan keadaan Ibunya yang sudah hampir rapuh?

Disinilah aku. Menempati sisi dimana harus berdoa dan bertindak di luar batas kewajaran. Dalam diam, dalam tulisan, kudoakan ayah mendapat kesehatan yang jauh lebih baik dari hari ini dan sebelumnya. Dalam diam aku mencoba mendoakan ibu agar tak dikuasai oleh rasa panik dan penuh kebingungan. Walaupun, percaya atau tidak, sebenarnya aku tak sekuat ibu dalam menjalani ini semua.

Lalu? Siapa yang memberikan ketegaran kepadaku? Tidak mungkin kutunjukkan segala kegundahan hati ini pada keluarga kecilku. Kemana aku lari? Tante, Om, Eyang, dan tidak lain tidak bukan........ Bestfriend!

Memang tidak mudah untuk berkata, kamulah best-friendku. Setidaknya untuk saat ini, kondisi rapuh membuatku tidak tau apa itu berfikir secara jernih. Blank! Bahkan enervon-C pun tidak mampu mengembalikan konsentrasiku. Huaaaa. Tapi setidaknya, merekalah yang memberikan suntikan semangat terindah kepadaku. Dengan hujanan "cepat sembuh ya buat ayahmu" atau "GWS buat ayahmu" dan malah "GWS Om Hadi Purnomo"  setidaknya mampu mengembalikan kepercayaan bahwa saya tidak sendirian.... Thanks :)

Mungkin tidak berhenti di situ saja, karena hidup adalah tentang sebuah proses. Maka, dalam menjalani hari-hari, adalah mereka yang memberikan lelucon, dan sejumlah komedi yang membuat saya menjadi lebih tegar lagi. Termasuk mereka. Ilmu Komunikasi Brawijaya 2011, hujanan mention, BBM, sms, yang selalu memberi semangat, bahkan menanyakan kondisi saya dan keluarga saya. Padahal, jika dipikir, emang mereka udah tau kayak apa keluarga saya? Sampai sebegitunya memberikan suntikan semangat seperti ini. Tapi..... Itulah yang disebut dengan the power of BestFriendship. Rasa saling percaya :)

Jika membicarakan masalah bestfriend yang saya miliki, ah, terlalu banyak jika harus menyebutnya satu-satu. Mereka ikut mendoakan kesehatan Om Hadi dan kestabilan keluarga saya. Memberikan saya saran dan kesan saat pikiran jernih tak mendominasi otak ini. Entah itu tebihers, Makuta, FST, rivana cs, SEMBILAN H, SMAST 2011, geng bodir, DCASN, UBFM, atlet-atlet voli, dan yang lain yang memberikan saya pemikiran yang bagi saya "lain" banget, tapi itulah pikiran terjernih yang mungkin sekarang belum saya dapatkan. Itulah The Power of Bestfriendship dari mereka..... Pikiran jernih yang menentramkan hati :)

Dengan segala doa yang sudah tersampaikan, semoga Allah mendengar dan membalas segala kebaikan yang telah kalian berikan, guys. Salut, kagum, dan haru bercampur menjadi satu. Tapi itulah yang menyebabkan saya "tatag" dan lebih siap untuk mendoakan kesehatan ayah saya dan menjaganya. Karena.... The Power of Bestfriendship :')

Sabtu, 01 September 2012

PHP? Mmmmmm.... Ga takut lagiiiii :D

Halo gaulers dan galauers! *eh -_- berjumpa kembali bersama penulis aneh, alay, singkat, dan kadang tidak jelas yang satu ini, ihihihih. Semacam kedinginan juga ya nulis di tengah malam kaya gini, tanpa kopi dan tanpa teman penambah inspirasi. Katanya sih, tadi ada yang mau nemenin, tapi ternyata, udah ditinggal tidur duluan ~

Anyway, itu baru yang dinamakan salah satu tindakan yang kurang menyenangkan dari PHP-ers.  Memang harus ada janji yang terucap sebelum segalanya binasa oleh janji manis kias semata *halah. Huahaha. Oh iya, ternyata ya, PHP itu singkatanya banyak banget lho, tapi yang dibahas disini adalah pemberi harapan palsu. Hmm, namanya juga masih muda, ya cinta-cintaan kaan objeknya :))

Kembali mengacu pada tulisan diatas, "namanya juga masih muda", yang muda yang ceria, yang muda pejuang bangsa. Baguslah sudah ya gaes kalo kita sebagai pemuda memiliki taktik dan strategi masing-masing dalam hidup, namun ada satu yang sering kelupaan, kadang kita hanya memikirkan apa yang tampak dalam diri kita hari ini, dan melupakan sesuatu yang terjadi di panjang hari kemudian. Paham ngga maksudnya? Mmm, gini sudah. Pernah gak kalian menangis saat kalian ngga diterima SNMPTN Undangan? Disitulah letak permainannya. Beberapa orang berhenti di titik "sabar dan legowo", dan sebagian lain lanjut ke titik "frustasi dan depresi" padahal kaan, hidup ngga berhenti di satu hari. Pengaruhnya? Memang banyak faktor yang mempengaruhi kemana manusia bisa mengkategorikan dirinya ke dalam 2 ciri tersebut. Dan, faktor yang paling besar berpengaruh adalah psikologis, dan bagi saya, persepsi adalah jawabannya. Kekuatan persepsi yang begitu membara, kalau penggunaannya benar dan dilakukan secara terus menerus, tentunya ketegaran diri dan kehebatan-kehebatan yang lain dalam diri kita akan ikut muncul lho gaes. Dan itulah kenapa, kamu bisa mempersepsikan kalo diri kamu, saat ini adalah korban PHP. Dan dari contoh ngga keterima SNMPTN Undangan itu tadi, kamu bisa mengevaluasi itu semua kok. Jangan lupa kalau masih banyak jalan alternatif di luar sana. Hidup tidak berhenti karena itu aja kok gaes, kamu jadi korban PHP? Ya balas dendam lah! *eh

Mungkin daripada tulisan ini mbulet dan objeknya meluasnya berlebihan, saya jelasin yaa. Kebanyakan di era kegaulan saat ini, remaja dan para pemain cinta mencintai kata PHP. Ya, dikit-dikit dikecewain bilang PHP, ga sreg dikit bilang PHP. Dan itulah kemelut dari diri mereka sendiri. PHP adalah kemelut dari diri mereka sendiri Lanjut gaes, ke contoh SNMPTN Undangan tadi. Dia ga bisa disebut sebagai salah satu PHP-ers lho, karena SNMPTN Undangan tidak pernah menjanjikan kepada pendaftarnya untuk LOLOS! Dan di situ letak kunci permasalahan remaja saat ini. Persepsi remaja saat ini, terutama buat kaum PD-ers, adalah "semua mata tertuju padamu". Persepsinya bisa salah di sini, terlalu membahana kalo kamu bilang kamu pesona harian lingkunganmu. Gunakan persepsi "Aku istimewa, dan cukup di sini saja" dan mainkan perasaan malu-mu, kemungkinan besar jiwamu akan segera terobati. Ah sadaaap! Seperti kalo kamu membaca buku berulang-ulang, menurut kamu tetep ada aja kan bagian yang belum tebaca? Ya, itulah persepsi dalam bahasa yang lebih rumitnya.

Contoh yang lain. Pernahkah seseorang yang kamu idolakan melempar senyum manisnya di hadapanmu?. Pasti langsung berbunga-bunga ya? Seolah-olah bagimu, dia mengerti apa yang kamu rasakan. Dan tepat di ujung itu kamu bagaikan seseorang yang diharapkannya untuk juga mendampinginya? SALAH gaes! Itulah kenapa saya bilang hidup tidak berhenti di hari itu saja. Masih banyak hari yang harus kamu pertimbangkan untuk melangkah dengan lebih menawan. Ayooo persepsikan saat itu hanyalah buaian semata dari sang Ilahi. Tidak salah untuk melempar senyum balik, setidaknya untuk membalas sapaan hati, namun, bentengi diri, karena itulah senjata agar kamu tidak terjatuh tersungkur saat menemukan dia sudah bersama yang lain. Dan itulah benteng agar kamu tidak menjadi manusia yang dikit-dikit pasang status "Ah, di PHPin dia :("

Dan jika ternyata kamu sudah merasa hal itu sudah terjadi sebelum kamu membaca tulisan ini, maka putar kembali posisi itu, kembali mainkan persepsi "Aku istimewa, dan cukup di sini saja". Istimewakan dirimu sendiri, untuk dirimu sendiri!! Rutinkan, dan kamu akan balik mem-PHP orang lain hiahahahaha hiiiiahahahaha *ketawa ala nenek lampir* *yagak gitu juga kaliii -_-*

Sebenernya gaes, maksud hati tulisan saya ini tadi adalah ingin membuka sesuatu yang belum terbuka *eh huaha jadi saya ingin kalian melihat yang belum kalian lihat tapi sebenarnya kalian bisa melihatnya dari dulu. Ya, inner, Evaluasikan diri kalian setiap peristiwa, karena PHP sebenernya adalah permasalahan yang bermula dari ke PD an dan itu terjadi di dalam diri kalian sendiri. Bukan maksud hati ingin menghentikan rasa percaya diri kalian, namun percayalah, segalanya itu harus dibentengi. Karena sesungguhnya, dunia tidak menginginkan akan terjadinya bedol desa manusia alay yang selalu menyalahkan orang lain (dalam hal ini, PHP adalah salah satu seni menyalahkan orang lain juga) ~ berhenti untuk menyalahkan orang lain sebelum menyalahkan diri sendiri ya gaes, karena "Aku istimewa, dan cukup di sini saja". Babaaay dan semoga tulisan kecil yang penuh makna kalo dibaca dengan tulus ikhlas ini bermanfaaaaaat :)))'


~~~ ini bukan owntalk maupun curhat pribadi yang menggebu-gebu, ini hanya tulisan krik-krik yang menimbulkan kecanduan dan penyakit rindu menahun ~~~

Rabu, 29 Agustus 2012

Senja dan Segala Kesenduan

Senja di ufuk barat. Kulihatnya masih setia dengan gunung itu. Kulihatnya diam, kulihatnya sendu. Kulihat diriku sendiri, gundah dalam sendu. Aku tak sesetia senja itu. Aku tak semenarik gunung itu. Segalanya sama. Diam dalam harapan.



Kali ini aku mengalah. Tiada ruang yang larut dalam sebuah kebahagiaan. Inilah kala senja. Kala aku bersetubuh dengan kesenduan. Kesenduan yang kubuat sendiri, tentunya dengan bumbu masa lalu.

Kesalahan? Ya, mungkin itu. Hidup ini terlalu berdiorama. Aku tak mampu menebak cikal kepahitan itu, cikal kenestapaan itu. Ya, inilah aku dengan segala kesenduan. Masih rindu, namun tak seperti senja dan gunung itu.


Tarian ilalang bumbui bimbang. Kali ini tiada ruang untuk beradu kembali. Tiada ruang untuk mengerti lebih mengerti. Aku hidup tanpa atap. Lebat di atasku, dingin di bawahku. Dan aku tak kuat. Karena aku masih tak layak senja dan gunung itu



Usah kusimpan lara ini. Hanya sendu yang kubiarkan menari-nari dalam pikiran tanpa kejelasan. Biar kuartikan dalam ketimpangan hidupku sendiri. Menari, dalam kesenduan. Mengerti, dalam kebodohan. Dan hingga fajar kembali lagi. Aku masih beku dan belum mati. Menunggu senja tak bersama gunung itu lagi,

Aku ingin menggantikan gunung itu. Diam, dan dihampiri sang senja. Bahkan, si balita pun tau, sang senja memeluk gunung itu dari belakang. Sang senja tenang di balik sang diam. Sang senja terpejam di tempat kebahagiaan. Dan sekali lagi, aku ingin menggantikan gunung itu

Selasa, 21 Agustus 2012

akulah kebodohan!

Temaram dan maghrib
berbalut sebuah pesakitan
yang berlari di sudut kota tua

berhenti dia sejenak
di ujung perempatan dia terjatuh
mencari kawanannya
yang perlahan menghilang

dia kembali ke jalan sebelumnya
sejengkal dia berlari ke masa lalu
mencari kawanannya
mencari kemana ia ditinggalkan

sejenak malam meradang
maghrib ciptakan garis penenggelam hari
dia menangis
terbenam bersama tarian rembulan petang

dia berhenti sesaat
menyadari jalan yang tadi ia lewati
menangis berbalas
dia lupa tempat dia melaju tadi

dia kehilangan waktunya
tak bersambut lagi dengan sebuah kebahagiaan
direngkuhnya penyesalan
dia tertahan di jalan sebelumnya

dialah aku!
dialah yang kehilangan jejak indah di masa depannya
dialah kebodohan!
dialah yang berjuang untuk menemukan masa lalunya
dan akulah kebodohan itu!

Minggu, 12 Agustus 2012

Curhatan Mahasiswa Bodoh Jurusan Ilmu Komunikasi

Syelamat pagihhh gaeees! Sudah lama yaa Nandha gak hadir di ruang baca kalian semua. Huahaha. Sorry, Nandha masih sibuk sama pekerjaan kedua niiih. Yap, volly! Emang susah kalo kita hidup di beberapa dunia dan kita mencintai semuanya. Ga bisa ditinggalin, ya ga? Huahaha

Di subuh setengah pagih ini, sebenernya bukan waktu yang cocok buat nulis, tapi waktu yang cocok buat berbagi kebingungan, huahaha. Seseorang pernah ngeramal saya di beberapa tahun yang lalu. Katanya, saya itu tipikal orang yang selalu memikirkan sesuatu sebelum tidur. Jadinya, ya kaya gini deh. Tadi tuh niatnya mau tidur, tapi karena kepikiran sama sesuatu, ya.. katakan selamat tinggal pada kasur. Babaaaaaaayyyyy!!!!!

Jadi gini nih, kira-kira udah genap setahun saya jadi mahasiswa Ilmu Komunikasi, tapi kenapa ya kok tetep aja saya gak bisa tampil elegan. Gak bisa tampil yang sesuai normalnya orang berdasi gitu looh. Kok tetep aja slengekan. Beberapa waktu memang dipaksa buat dandan ala-ala eksekutif muda yang pake pantovel gitu. Cocok sih cocok, tapi semacam ga ada feel buat kesana. Apa iya saya gagal? Apa iya saya harus berusaha buat terus nyamanin diri kayak gitu? Ah -______- Seseorang pernah bertanya, sampai kapan seneng pake kaos, sampai kapan seneng pake sepatu kets? Dan seperti ada penuntun, saya cuma bisa bilang, gaktau, mumpung sekarang masih bisa pakai. Lalu, seseorang itu bertanya kembali, kalau misal mulai sekarang disuruh buat stop pakai sepatu kets, terus kudu pake pantovel? Mmmmm..... Saya hanya terdiam membisu dengan mimik wajah yang kebingungan. Terus harus gimanaaaa??????



Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, di tempat lain seseorang bertanya kepada saya.
Nan, emang anak komunikasi harus gaul ya? Udah sedikit kegirangan, berarti dalam benaknya, saya ini gaul! haha gaul lhoo. Dan dengan penuh percaya diri, saya menjawab.... Yaiyadong, kan anak komunikasi harus happening banget, gak boleh kudet, apalagi kuper. Terus, dengan tak terduga, doi ngomong. Oh, pantesan ya ngetweetnya los banget. Banteeer!
-________- damn! Paham maksudnya ga sih? Jadi maksudnya bilang kalo saya ini jago nyampah? Gitu ya bos? Huh. Sbenernya bingung lagi sama rangkaian kesimpulan ini. Satu sisi, emang nyampah itu gak banget, dan anak komunikasi gak boleh kayak gitu! (ya gak sih?) hem. Akhirnya, dengan sedikit putar otak, dengan sigap tanggap dan piawainya saya mulai mencurahkan isi hati, halah!
Jadi gini, kalo anak komunikasi nyampah, ya emang sampah yang berkualitas, yang berguna, yang dibutuhkan banyak orang, apalagi kan nyampahnya di socmed, yang ngonsumsi banyak, mau gak mau emang harus mikir dulu sebelum nyampah. Gak sekedar curhat gitu deeeeh.
Mungkin doi rada terketuk ya mendengarkan kotbahku itu tadi :" tapi tiba-tiba doi bilang... Ooooh jadi ga boleh curhat yaaaaa. Oke deeeeeeh. Doi bilangnya sih sambil senyum gitu. Dan ga lama kemudian, saya baru sadar kalo beberapa menit yang lalu saya baru curhat dan galauin mantan di twitter -__- oh damn! omongan saya dibeli deh laah.
Seperti dua kali merasa bodoh, saya ya cuma bisa nyengir gak jelas. Udah ga bisa tampil elegan, doyan nyampah, apalagi yaa yang ga ndukung jadi mahasiswa komunikasi yang bener.. Hmmmm. Kayaknya masih banyak deh gaes. Oh iya, ini bukan sekedar curhat kan? Ini juga informasi kan! Yak, bener! Informasi tentang diri sendiri. Yaudindaaang, mau gimanapun, ini namanya juga proses belajar. Proses yang menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya. Kesimpulannya, mahasiswa komunikasi selalu mempunyai alasan yang jelas untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya, termasuk, untuk mengelak dan membela diri. *jauh banget yak* huaha

Gaes, kayaknya segitu dulu deh yang Nandha kasih tau buat kalian tentang hidup ini. Sebenernya makna terselubung dari tulisan di atas adalah tentang evaluasi diri juga lho. Hihihi. Oke gaes, stay young, and be wise! Love, Nandha

Minggu, 29 Juli 2012

Malam itu kejam! Malam itu murka!

Ada yang terbangun di tengah peliknya malam, dan menganggap inilah seni kehidupan?
Ya. Kehidupan malam itu keras. Bahkan sangat keras, bagi si rabun yang tidak mengerti apa itu arti sebuah percaya diri.
Aku percaya tentang seni kehidupan. Walau aku tak sanggup untuk merangkainya sendiri. Aku percaya dengan sebuah kekalahan. Walau aku tidak tercipta untuk gampang menerimanya.

Lalu, apa itu kehidupan malam bagiku? Itukah sebuah angan? Atau bahkan, jalan kebahagiaan? Sepertinya, sendiri masih lebih baik.



Kalian diam di saat aku menang, dan mencaci aku disaat aku terjatuh tersungkur dengan sangat memalukan. Bagiku, kalian hebat. Butuh mental yang kuat untuk menghakimi orang lain dengan caranya sendiri. Namun tidak bagi yang lain, yang menganggap hal itu hanya sebagai sebuah umpatan pecundang.

Mungkin kali ini aku diam. Hanya menerima sebuah kenyataan tanpa mengetahui jalan terbaik yang seharusnya mampu untuk diperbaiki. Inilah malam. Inilah kekejaman. Disaat kamu berniat untuk mengepakkan sayap, bulan tak memberi cahaya yang cukup untuk membuat dirimu kuat.

Dalam hina, aku hanya mampu berkata, aku ingin menerobos kepahitan ini. Memberi ruang bagiku untuk bersyukur, walau aku sendiri tak tahu apa yang harus kusyukuri. Memberi dendangan hati yang lara, walau harus menyanyi dengan tertatih jua.

Inilah malam, kelam! Itulah sahabat, cinta. Tak ada yang mampu menguatkan selain hati nurani. Mungkin salah satunya adalah keprihatinan. prihatin atas kenistaan diri. Sepi, sendiri, dan perlahan, mati.

Aku ingin berlari dari kegelisahan malam. Bukan tuk jadi pecundang. Aku hanya ingin memberi ruang kepada mereka, untuk melihat sejauh apa lompatannya bertahan. Untuk melihat sepiawai apa kepakkan sayapnya. Dan untuk meliat, seindah apa tarian malamnya. Bagiku, malam memberi ruang yang cukup untuk menangis. Bagiku, malam memberi waktu yang tepat untuk mengemis.

Akulah hasil dari masa laluku. Yang takluk akan malam, yang takut akan keheningan. Dan kini aku tahu, malam berhasil mempecundangi relungku dalam sesal yang akan kusimpan panjang. Bagiku, malam belum cukup baik untuk diriku sendiri.

Aku ingin temaram itu murka, aku ingin cahaya itu lelah! Lelah menyinari malam! Agar malam merasakan hal yang sama denganku, dibuang! Ya, dibuang tak berguna! Aku ingin malam tahu, apa jadinya dia tanpa temaram. Apa jadinya dia tanpa rembulan. Dan aku ingin malam menyembahku. Menyembahku melebur kesombongannya.

Malam memang hina. Seperti tamparan keras saat aku dikalahkannya. Dan malam masih menikmati sisa waktunya. Sebelum malam tiada, sebelum malam binasa. Malam sirna. Malam itu kejam! Malam itu murka!