Rabu, 30 Januari 2013

Buat kamu yang kutemui di 22 januari.

halo, bos. lama ya kita nggak ketemu. aku hitung-hitung udah 3 tahunan lho. mungkin cuman aku aja yang ngitung, lha kamu, mau ada aku, mau enggak, kayaknya kehidupanmu masih asyik-asyik aja tuh :)



udah lupa mungkin ya kamu rasanya ngesms pakek nada bergelanyut manja gitu? tanya aku pulang jam berapa, tanya lagi apa, atau bahkan pamitan mau ke bali. sampe-sampe aku inget, kita sempat on phone pas aku pelajaran sejarah, dengan kondisi baterai hp yang sekarat, dan saat itu kupikir kekuatan cinta yang menguatkan pembicaraan kita, haha. lucu ya? iya lucu. tapi jangan bilang anak-anakmu nanti lho :)


aku coba mikir sampe sekarang, kenapa harus kita ketemu, dan kenapa harus aku ngrasa kita jodoh pas itu. naif sih, tapi itulah hidup. kamu yang mengajarkannya, kamu bilang coklat itu kalem tapi jantan. sementara aku bilang merah itu berani. kita berwarna, kata kamu, gak perlu ada ulangtahun-ulangtahunan kalo tiap hari kita udah bisa bahagia bersama. alay ya? tapi aku seneng pas itu. senengnya berlebihan :)
udah berapa orang yang kamu ceritain kalo aku ga bisa hidup tanpa mami? udah berapa orang yang kamu bilang kalo aku anak mami? kayaknya temen-temenku yang tau begitu cuman 1 sumbernya, dari kamu. dasar alien!


masih inget gimana aku tertegun dan bener-bener nyimpen rindu pas kita ketemu kapan hari itu? mulut kecil cuma bilang, gimana kabarmu dan kabar mami? mami. iya, kamu deket banget sama mami.


aku masih inget, gimana kondisi tubuhmu pas itu. wangimu, masih tetep. tetep kayak dulu, dan tetep kayak kaos itu, kaos biru, kaos kenangan. mungkin kalo sekarang aku mau cerita sama dunia, ga bakal ada yang ngerti indahnya, ga nutut. karena kamu emang udah terlampau indah saat itu.

hingga akhirnya setelah kamu berlalu dan aku tetap memendam rindu, Tuhan mempertemukan kita lagi. kali ini caranya beda, kita dipertemukan di sebuah jalan yang sama, namun arahnya berbeda. mungkin itu yang terjadi sama kita, kita berada di lintasan yang sama, tapi kamu lebih memilih untuk melanjutkan hidupmu yang kau kira lebih baik tanpa aku, sementara aku, masih buta arah. buta arah karena kebanyakan kau tuntun.

aku seneng saat itu. tepat 22 januari. kita berpapasan, tertegun, dan saling membuang muka. tampaknya, saat itu aku hanya diperkenankan untuk cukup tau keadaanmu, dan kupikir kamu masih baik-baik saja, tetap pribadi sempurna yang kukenal sebelumnya. "tambah nyempluk", itu yang kubilang ke mami. haha, lucu ya. mami masih nanyain kamu, banget. banget :)

aku ngga bakal nulis surat kecil untuk Tuhan kok tenang aja. tapi yang jelas aku terima aja kalo ternyata Tuhan masih ngasih koridor yang diturunkannya buat kita bertemu, sebagai apapun, kondisi bagaimanapun. setidaknya, untuk melihatmu dari dekat lalu mendoakanmu dan melempar rindu dari kejauhan.

Cappucino yang kuminum tak pernah sehambar ini

pagi yang sepi. semestinya tetap indah. lalu bertahan aku atas sebuah keputusan tentang kita. kita yang tak lagi bersama. bukan begitu, dari awal memang kita tak bersama. kau bersama pacarmu, dan aku pendampingnya. namun kali ini aku sudah cukup bosan membicarakan itu. kau dan pacarmu. lebih baik kubicarakan tentang kita yang memang sudah pasti tidak akan bersama lagi.

aku bangun dari tempat yang sempat kita mainkan, ya mimpi. kita pernah berayun di sana. merajut asa yang ternyata lenyap seketika saat dunia tak lagi mengijinkan keberadaan kita untuk tertawa bersama. tentang kopi yang sempat menghangatkan, seduhan teh melati di rintiknya hujan, hingga cappucino yang selalu kau pesan di keheningan malam kita. hingga mendarat pada sebuah pelukan mesra. lalu kali ini kuseduh cappucino sendiri. tanpa kamu tempat ceritaku, tanpa kamu yang ada untuk menyandarkan bebanku.

hingga terbitnya matahari dari timur, cappucino yang kuminum tak seperti biasanya. kali ini mungkin seduhannya biasa, kurang hangat menurutku. dan hingga kuingat memori tenggelam di dalamnya, tentang kamu, tentang rasa, tentang cinta, hingga aku tau, tanpamu, karenamu, cappucino yang kuminum tak pernah sehambar ini.

Minggu, 20 Januari 2013

kicauan untukmu

buat kamu yang mungkin nggak tau sekarang aku lagi ngapain, pengen apa, dan kelaparan ngidam apa... ah yang jelas, kamu begitu asik dengan duniamu, dengan pacarmu, dan aku tak begitu asik dengan itu semua. mungkin hanya satu salam yang kubentuk unyu, kulempar dari sini, dari ruang tamu saat aku mengetik tulisan ini.

seperti semua berjalan pada umumnya, seperti semua berjalan dengan semestinya sebuah perjalanan. perkenalan, kehampaan, dan mayoritas rasa. kali ini, rasa kagum yang menyelimuti. ternyata benar kata orang, semakin gampang kita mencintai, maka kita akan semakin rapuh. kadang teruji, siapa yang cinta, siapa yang terdepak. dan dalam kisah ini, aku.

siapa boleh menduga tentang kita. uops, salah, lebih tepatnya tentang aku yang berharap jauh lebih dari ini, dan kamu yang berperan diam saja. heran ya aku, kenapa aku jadi pihak yang menye-menye. maaf, kali ini sepertinya tubuh sedang ngga sinkron sama hati. kayak aku. beneran. serius. sok-sok an ngambek, tapi nggak bisa. dan pilunya sama juga kayak aku yang udah pasang emot sedih, tapu gak ditanyain sedih kenapa. hancur lho. luka lho.

teruntuk kamu yang lagi ditemenin pacarmu bbman. bingung lho aku sekarang, seperti lalai tapi ngga pada tempatnya, semacam gusar tapi ngga semestinya.
dan lagi-lagi apa iya aku harus tersungkur jatuh di cinta sendiri atas pacar orang? teruntuk kamu yang mungkin lagi saling melepas rindu, aku paham tugasmu untukku, dan pacarmu untukmu. jadi, kadang cinta memang memilih untuk diam saja.

Sabtu, 19 Januari 2013

salah.



aku terlanjur menghirup rindu yang seharusnya bukan milikku





banyak hal yang perlahan membuatku sepi di sini. dia, kamu, dan kalian. kalian yang terbentuk dari dia dan kamu lebih tepatnya. dan aku masih menonton. tidak berhenti menonton, di hatiku seperti masih menuai doa. doanya tulus, tapi jahat. iya, biar kalian selesai. dan aku bisa menari girang dari sana.

Kamis, 17 Januari 2013

abu-abu di sekitar hijau muda



mungkin ini ya yang kalian maksud? bayangkan aja dua manusia yang bergabung jadi 1 ikatan dan di sekelilingnya terdapat zona abu-abu. seperti gambar itu? dan gimana kalo zona abu-abu itu aku? istilahnya, ketika kamu memilih buat keluar dari keindahan hijau muda, entah karena apa, aku siap menerima, bahkan memberikan yang lebih dengan tambalan apapun.

sekarang, saatnya aku yang bermain dengan perasaanku sendiri.

Rabu, 16 Januari 2013



masih belum tau atau masih berpura-pura nggak tau? masih nggak mau  bilang atau bahkan masih mencoba buat melupakan? kamu  nggak sekuat aku ternyata. aku aja bisa jadi pemain cadangan di antara kalian. tapi kamu? nga a a gitu aja udah nyerah!

kadang aku mikir, sebegitu hinanya aku hidup dalam cemoohan orang, terima, tapi ga sepenuhnya terima. cuman bilang "ya yo ya yo" tapi itu karena kamu juga, karena kebertahananku sih lebih tepatnya.

kadang aku mikir juga sih tapi, kenapa kamu baik mampus. ngasih harapan cuma-cuma di beberapa saat dan letupannya kerasa banget. kepo, stalking, dan semacamnya, kamu bener-bener bisa ngundang aku buat ngelakuin hal-hal itu, padahal aku sadar, aku siapa.

kayaknya mau bilang aku maksa, ya emang. enggak, ya emang. ah udahlah, kita sama-sama pemain kok. bedanya, kalian pemain inti, dan aku masih diam, melihat, memperhatikan, menambahkan apa yang kurang dari kalian, soalnya aku pemain cadangan. pemain yang siap dipanggil sewaktu-waktu... karena kamu.




Senin, 14 Januari 2013

LHO, KOK AKU SEDIH?

"Tahap pertama yang harus kita lakukan saat ini adalah bersahabat dengan hujan dan waktu. Dengan kenangan dan rindu"